Opini

Briket Biomassa dan Rocket Stove: Solusi Pengolahan Sampah dan Energi Bersih untuk Masa Depan

1
×

Briket Biomassa dan Rocket Stove: Solusi Pengolahan Sampah dan Energi Bersih untuk Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Nggusuwaru Bima

Kegiatan pengolahan sampah oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Nggusuwaru Bima. Foto: Ist

Di tepian air pesona Kota Bima yang indah, masalah sampah organik dan anorganik seringkali menjadi tantangan yang tak kunjung usai. Sisa pertanian seperti bongol jagung, limbah rumah tangga, hingga sampah anorganik di sekolah-sekolah menumpuk pada tempat sampah, sementara kebutuhan akan bahan bakar memasak yang mulai langka.

Dari sinilah tim pengabdian yang diketuai ibu Eka hadir melalui sebuah inisiatif pengabdian berjudul “Model Pengelolaan Sampah Berbasis Energi Mandiri melalui Briket Biomassa dan Teknologi Rocket Stove sebagai Solusi Lingkungan Berkelanjutan”. Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun pendanaan 2026

Kegiatan yang diketuai oleh Ibu Eka Rahmawati, M.Si. dari Universitas Nggusuwaru Bima, tim pengabdian ini beranggotakan Muhammad Subhan, M.Pd. (Prodi Pendidikan Fisika) dan Ibu Ariyansyah, M.Sc. (Prodi Pendidikan Biologi). Bersama mitra utama, SMPIT Insan Kamil Leadership Boarding School Kota Bima, tim bertekad mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah bukan lagi sebagai beban, melainkan sumber energi yang bernilai manfaat. Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa kegiatan tim pengabdian UNSWA ini ikut mendukung program BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Asri) yang dicanangkan pemerintah Kota Bima tahun 2026 ini.

Langkah Awal: Sosialisasi dan Lahirnya Duta Sampah

Langkah pertama yang menjadi fondasi kegiatan ini adalah sosialisasi yang digelar di lingkungan sekolah. Diawali dengan FGD dengan kepala sekolah, guru dan perwakilan murid pada tanggal 30 Juli 2026. Kemudian lanjut 31 Juli 2026 sosialisasi ke seluruh santri.

Kegiatan ini bukan sekadar penyampaian materi, melainkan ajakan kolaborasi: bagaimana sampah organik yang ada di sekitar sekolah bisa diolah menjadi briket biomassa yang efisien, dan bagaimana teknologi rocket stove bisa menghemat bahan bakar sekaligus mengurangi asap yang berbahaya bagi kesehatan untuk menghilangkan sampah anorganik yang berserakan di tempat pembuangan sampah sekolah.

Antusiasme para santri luar biasa besar. Dari sinilah terpilih Tim Duta Pengolahan Sampah, yang diketuai langsung oleh Ketua Badan Eksekutif Santri (BES), Muhammad Hanif Abiyyurahman. Sebagai pemimpin di kalangan santri, Hanif menjadi garda terdepan dalam menyebarkan semangat pengelolaan sampah yang berkelanjutan. “Kami ingin menjadi contoh bagi teman-teman dan masyarakat sekitar, bahwa dari hal yang dianggap sampah, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Mengapa Briket Biomassa dan Rocket Stove?

Konsep yang ditawarkan tim ini sederhana namun berdampak besar. Limbah organik seperti tongkol jagung, sekam padi, hingga ranting kayu yang biasanya dibakar sembarangan atau menumpuk menjadi sampah, diolah menjadi briket biomassa. Tahap awal pembuatan Briket yakni tongkol jagung dibakar menggunakan rocket stove, sebuah teknologi sederhana yang dirancang agar pembakaran berlangsung lebih sempurna, panas lebih terjaga, dan asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan pembakaran konvensional.

Dua teknologi ini saling melengkapi: sampah berkurang, kebutuhan energi terpenuhi, dan lingkungan tetap terjaga. Selain itu, briket biomassa bisa dibuat sendiri dari bahan yang tersedia di sekitar, sehingga biaya pengeluaran untuk membeli bahan bakar bisa ditekan, sebuah solusi energi mandiri yang nyata.

Kolaborasi yang Menghasilkan Perubahan

Kekuatan utama kegiatan ini terletak pada kemitraan antara akademisi dan institusi pendidikan. Universitas Nggusuwaru Bima membawa ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara SMPIT Insan Kamil memberikan ruang dan semangat untuk menerapkannya. Dengan melibatkan para santri sejak awal, kegiatan ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, sebuah investasi karakter yang tak ternilai harganya.

Ke depannya, tim berharap model pengelolaan sampah berbasis energi mandiri ini tidak hanya berhenti di SMPIT insan Kamil Kota Bima tetapi bisa menular ke sekolah-sekolah lain, rumah-rumah warga, hingga menjadi kebiasaan masyarakat luas. Karena perubahan besar selalu bermula dari langkah kecil: memilah sampah, mengolahnya, dan menyadari bahwa setiap benda yang kita buang sebenarnya punya nilai, jika kita tahu caranya.

“Sampah bukanlah bagain akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari energi baru jika kita mau konsisten mengelolanya dengan baik”

Penulis:
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Nggusuwaru Bima