Kabar Kota Bima

Dituding Beri Jabatan ke Keluarga, Wali Kota Bima Ungkap Fakta yang Jarang Diketahui Publik

98
×

Dituding Beri Jabatan ke Keluarga, Wali Kota Bima Ungkap Fakta yang Jarang Diketahui Publik

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Menanggapi isu yang ramai diperbincangkan di media sosial, terkait dugaan pemberian jabatan strategis kepada anggota keluarga di lingkungan Pemerintah Kota Bima, Wali Kota Bima H A Rahman H Abidin angkat bicara.

Wali Kota Bima H A Rahman H Abidin bersama istri. Foto: Ist

Melalui pernyataan resminya di akun Facebook miliknya, Sabtu 4 Juli 2026, Aji Man – sapaan akrabnya – mengaku merasa perlu meluruskan informasi yang berkembang, agar tidak menjadi fitnah di tengah masyarakat.

Menurutnya, isu tersebut bermula dari pesan WhatsApp yang diterimanya dari seorang teman yang menanyakan kebenaran kabar, bahwa istri dan iparnya memperoleh jabatan strategis di lingkungan Pemkot Bima.

“Sejak dilantik menjadi Wali Kota pada Februari 2025, saya disumpah untuk taat pada aturan dan menjaga amanah rakyat. Saya memang manusia biasa yang memiliki keluarga, tetapi ketika berada di meja kerja, yang saya pegang adalah aturan, bukan hubungan keluarga,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, dirinya berasal dari keluarga besar yang terdiri dari 21 bersaudara dari 3 ibu, dengan 10 saudara perempuan dan 11 saudara laki-laki. Namun, menurutnya, hubungan kekeluargaan tidak pernah dijadikan dasar dalam mengambil keputusan birokrasi.

Baginya, prinsip utama dalam memimpin adalah keadilan di atas kedekatan.

“Di meja kerja saya tidak ada istilah keluarga atau bukan keluarga. Yang ada hanya benar atau salah. Yang berprestasi saya beri apresiasi, yang melanggar saya tindak sesuai aturan, siapa pun orangnya,” tulisnya.

Aji Man juga menegaskan bahwa seluruh Aparatur Sipil Negara harus dinilai berdasarkan kompetensi, integritas, pengalaman, dan hasil kerja, bukan karena hubungan keluarga.

“Saya tidak pernah melihat ASN dari bapaknya siapa atau suaminya siapa. Justru kepada keluarga saya yang berstatus ASN, saya meminta mereka bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan kemampuan mereka,” katanya.

Dirinya juga meluruskan isu mengenai iparnya yang disebut-sebut masih menjadi pejabat di lingkungan Pemkot Bima.

Menurutnya, dari 10 saudara perempuannya, hanya tiga yang menikah dengan ASN dan seluruhnya telah memasuki masa pensiun.

“Itu berarti tidak ada lagi ipar saya yang berstatus ASN, apalagi menduduki jabatan strategis di Pemerintah Kota Bima,” tegasnya lagi.

Sementara terkait istrinya, Badrah Ekawati, Aji Man menegaskan bahwa karier sang istri dibangun jauh sebelum dirinya terjun ke dunia politik.

Ia menjelaskan, Badrah diangkat menjadi PNS pada tahun 1993 dan telah mengabdi selama 33 tahun. Selama itu pula, ia menempuh berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SPK, D1, D3, D4 Kebidanan, Profesi Bidan hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi.

Kariernya pun dimulai dari staf biasa selama sekitar 20 tahun, kemudian dipercaya menjadi Kepala Seksi Promosi Kesehatan pada 2013 dan Kepala Bidang Promosi Kesehatan pada 2016 melalui mekanisme uji kompetensi dan penilaian kinerja.

“Apakah 33 tahun pengabdian, berbagai jenjang pendidikan, pengalaman, dan karier yang dirintis dari bawah menjadi tidak berarti hanya karena hari ini dia adalah istri Wali Kota? Jawaban saya, tidak,” tegas Aji Man.

Ia menekankan bahwa penilaian terhadap seorang ASN dilakukan melalui indikator kinerja, disiplin, integritas, serta capaian kerja, bukan berdasarkan status perkawinan.

Aji Man memastikan seluruh proses mutasi dan promosi pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bima telah melalui mekanisme yang berlaku, mulai dari pertimbangan Baperjakat, penerapan Sistem Merit, hingga memperoleh Persetujuan Teknis dari Badan Kepegawaian Negara (BKN).

“Saya sadar tidak semua orang akan puas terhadap setiap keputusan pemerintah. Itu bagian dari demokrasi. Tugas saya adalah menjawabnya dengan kerja nyata, bukan sekadar janji,” tulisnya lagi.

Di akhir pernyataannya, Aji Man mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Kota Bima mengabdi tanpa melihat latar belakang keluarga.

“Saya ingin birokrasi Kota Bima diisi oleh orang-orang yang kompeten. Jangan tanya dia anak siapa atau suami siapa, tetapi tanyakan apa yang bisa dia berikan untuk daerah ini,” katanya.

Aji Man kembali menegaskan, nilai Maja Labo Dahu akan terus menjadi pedoman dalam kepemimpinannya.

“Prinsip hidup saya adalah Maja Labo Dahu, malu berbuat salah dan takut melanggar aturan. Prinsip ini saya tanamkan kepada keluarga saya dan saya tuntut pula kepada seluruh ASN. Keluarga saya harus menjadi yang pertama memberi contoh,” tambahnya.

*Kahaba-01