Spanyol Serang Fernandes Atas Rencana Nasionalisasi Repsol

Photograph: Natacha Pisarenko/AP

Madrid, Kahaba.- Pemerintah Spanyol dilaporkan berang dengan tindakan presiden Argentina, Christina Fernandes. Sebelumnya, Fernandes secara terbuka berencana menasionalisasi korporasi migas Spanyol beberapa hari yang lalu. Ia ingin membeli 51% saham Repsol. Repsol sendiri adalah bagian dari perusahaan nasional migas Argentina YPF (Yacimientos Petrolíferos Fiscales). Kebijakan tersebut menjadi kejutan sekaligus goncangan hebat hubungan ekonomi kedua Negara.

 “Dengan sikap ini, otoritas Argentina telah membuka permusuhan. Akan ada konsekuensi dan respon dari kami selama beberapa pekan kedepan,“ tegas menteri perindustrian Spanyol, Jose Manuel Soria. Ia lalu menyatakan, Argentina akan berhadapan dengan kami baik di medan diplomasi, industry, dan energy.

Sementara itu, Presiden Spanyol, Mariano Rajoy, ikut menyerang kebijakan nasionalisasi tersebut. Berbicara pada forum Negara Amerika Latin kemarin (18/4/12), ia secara tegas menunjukkan kekecewaan sekaligus marah. “ Ini akan merusak reputasi internasional argentina,“ kesalnya. Pemerintah spanyol sendiri akan merumuskan sikap resminya seusai rapat kabinet Jumat ini, (20/04/12). Dilaporkan juga bahwa masalah ini bisa jadi akan diseret hingga ke institusi Uni Eropa (EU).

Fernandes telah menegaskan bahwa nasionalisasi Repsol adalah kalkulasi ekonomi rasional. Repsol dianggap gagal ikut mendorong kesejahteraan rakyat Argentina. Secara politik, Fernandes meretas jalan kedaulatan ekonomi atas sumber-sumber ekonomi strategisnya. Berdasarkan perhitungan kasar, nilai yang harus dibayar Argentina jika membeli 51% saham repsol yakni sekitar 10,5 milliar dollar AS. Repsol sendiri mengakuisisi YPF diawal tahun 1990-an dan beroperasi hingga sekarang. Namun begitu, nasionalisasi akan menemui jalan berliku terutama di jalur hukum. Pemerintah Spanyol tampak tidak akan tinggal diam.

Gelombang nasionalisasi di Amerika Latin seakan menjadi tren sejak 5 atau 6 tahun terakhir. Presiden Venezuela Hugo Chavez dianggap sebagai pelopor kebijakan populis ini. Platform ekonomi politik yang berbasis pada kedaulatan nasional oleh banyak pengamat politik menelurkan istilah kebangkitan gerakan kiri di Amerika Selatan. Dalam sejarahnya, kawasan Amerika Latin merupakan lahan uji coba implementasi kebijakan neoliberalisme sejak dekade 70-an. Dan kini, dengan dimotori oleh Hugo Chaves perlawanan tampak belum berakhir. [Guardian/AA]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *