Kota Bima, Kahaba.- Transformasi layanan kesehatan berbasis digital terus berkembang di Kota Bima. Salah satunya melalui inovasi Halo ODHIV 2.0, sebuah platform digital yang menghadirkan layanan edukasi, konsultasi, hingga akses pemeriksaan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) secara mudah, aman, dan menjaga kerahasiaan pengguna.
Inovasi tersebut digagas oleh Asryadin, Aparatur Sipil Negara sekaligus pemerhati program HIV/AIDS dan PIMS, sebagai pengembangan dari inovasi KUNCI BAJU ODHA (Kunjungi, Cintai, Obati, dan Jangan Jauhi Orang dengan HIV/AIDS) yang selama ini berfokus pada penghapusan stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).
Asryadin menjelaskan, Halo ODHIV 2.0 dirancang untuk memperluas akses masyarakat, terhadap layanan kesehatan digital tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Platform ini menyediakan berbagai fitur, mulai dari konsultasi daring dengan dokter, konselor, dan tenaga kesehatan, pengajuan pemeriksaan laboratorium HIV dan PIMS, artikel serta video edukasi, informasi layanan kesehatan, hingga fitur tanya jawab (Q&A).
“Melalui Halo ODHIV, masyarakat dapat berkonsultasi dengan lebih nyaman tanpa rasa takut terhadap stigma. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang berani melakukan deteksi dini dan mendapatkan penanganan yang tepat,” ujarnya.
Salah satu keunggulan Halo ODHIV 2.0 adalah tersedianya pilihan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sehingga informasi kesehatan dapat diakses lebih luas, termasuk oleh pengguna dari luar negeri. Fitur tersebut menjadi nilai tambah dalam mendukung literasi kesehatan sekaligus menghadirkan layanan yang lebih inklusif.
Sejak diluncurkan pada akhir 2025, platform ini telah dimanfaatkan ratusan pengguna dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, Halo ODHIV mulai diakses oleh pengguna mancanegara, menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan konsultasi kesehatan digital yang aman, mudah, dan terpercaya.
Pengembangan Halo ODHIV 2.0 juga melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter, perawat, analis kesehatan, dan konselor guna memastikan seluruh layanan yang diberikan tetap profesional, akurat, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Menurut Asryadin, inovasi ini bukan sekadar menghadirkan sebuah website, tetapi membangun ruang layanan kesehatan yang ramah, bebas stigma, serta menjamin privasi masyarakat.
“Halo ODHIV bukan hanya sebuah platform digital, tetapi bentuk komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif, menjaga kerahasiaan pengguna, serta mampu menjangkau masyarakat tanpa batas wilayah dan waktu,” katanya.
Melalui inovasi tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan HIV serta PIMS terus meningkat.
Halo ODHIV 2.0 juga menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari ASN daerah mampu memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi masyarakat Kota Bima, tetapi juga bagi pengguna di berbagai daerah hingga tingkat internasional.
*Kahaba-04













