Tahun 2019, Dinas Pertanian Kembangkan Tanaman Kedelai dan Padi Gugu

Kota Bima, Kahaba.- Realisasi capaian Dinas Pertanian di Bidang Pangan dan Holtikultura 2018 mencapai 100 persen. Beberapa jenis tanaman unggulan, seperti padi dan jagung menjadi komoditas paling besar di Kota Bima.

Kepala Bidang Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kota Bima Ridwan. Foto: Hardi

Kepala Bidang Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kota Bima Ridwan mengatakan, komoditi dengan jumlah terbesar di Kota Bima adalah padi. Namun komoditi lain yang bisa juga berkembang antara lain, jagung dan kedelai.

“Di tahun 2018 jumlah capaian dari hasil jagung mencapai 8.000 Ton lebih. Sementara kedelai juga akan diusahakan oleh Dinas Pertanian untuk bisa dijadikan komoditi unggulan di Kota Bima,” ujar Ridwa, Kamis (28/2) di Kantor Pertanian Kota Bima.

Kata dia, untuk komoditi jagung di tahun 2019 akan dikurangi. Alasannya, karena Dinas Pertanian akan mencoba mengembangkan komoditas lain seperti kedelai dan padi gugu.

“Komiditi kedelai dan padi gugu harus dikembangkan oleh masyarakat Kota Bima. Sesuai dengan visi-misi Walikota Bima yang ingin menjadikan Kota Bima lumbung padi,” katanya.

Menurut Ridwan, alasan lain kenapa perlu dialihkan ke komoditi kedelai dan padi gugu, agar dapat mengurangi impor kedelai dan beras yang kerap kali meningkat. Harga tahu-tempe di pasar dengan modal kedelai yang tidak bagus untuk kesehatan itu juga merupakan alasan utama.

“Tahu tempe di pasar itu banyak impor dari luar negeri, kedelainya juga tidak seperti kedelai kita, makanya perlu adanya kedelai lokal,” tuturnya.

Ridwan juga mengaku, tentu akan menemukan kesulitan untuk mengarahkan masyarakat beralih ke tanaman kedelai. Pihaknya belum bisa mendorong secepatnya, karena produktifitas kedelai juga sangat rendah.

*Kahaba-07

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *