Kota Bima, Kahaba.- Setiap pagi, Yuliatin memulai harinya dengan membawa ikan dagangan, berkeliling dari kampung ke kampung di Kota Bima. Di bawah terik matahari, perempuan asal Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota itu mencari nafkah demi keluarga.
Namun, di balik kesederhanaannya sebagai penjual ikan keliling, tersimpan hati yang begitu lapang.
Saat sebagian orang menunggu berkecukupan untuk berbagi, Yuliatin justru mengajarkan bahwa kebaikan tak pernah menunggu kaya.
Dari hasil jualan ikan yang diperolehnya setiap hari, ia rutin menyisihkan sebagian rezeki untuk diserahkan kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bima.
Nominalnya mungkin tidak besar. Namun, ketulusan yang menyertainya jauh lebih bernilai dari angka.
Yuliatin mengaku kebiasaan bersedekah telah ia lakukan sejak lama. Baginya, berbagi merupakan bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.
“Alhamdulillah, dari hasil jualan ikan selalu saya sisihkan sebagian. Kadang satu sampai tiga kali dalam sebulan saya datang ke Baznas untuk berinfak,” tuturnya dengan sederhana, Senin 15 Juni 2026.
Meski jumlah yang disumbangkan tidak seberapa, Yuliatin mengaku bahagia karena bisa membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya lirih.
Ketua Baznas Kota Bima, H Abdul Latief mengaku terharu melihat keteguhan hati Yuliatin. Menurutnya, ibu penjual ikan itu kerap datang ke kantor Baznas menyerahkan zakat mal dan infak dari hasil jerih payahnya sendiri.
“Kami melihat senyum ketulusan di wajah Ibu Yuliatin setiap kali menyerahkan rezekinya. Jangan lihat nilainya, tetapi lihat keikhlasan dan keberkahan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Atas ketulusan tersebut, Pemerintah Kota Bima melalui Baznas memberikan piagam penghargaan kepada Yuliatin, sebagai bentuk apresiasi atas kepeduliannya terhadap sesama.
Piagam penghargaan itu diserahkan langsung oleh Wali Kota Bima, H A Rahman H Abidin. Momen tersebut menjadi pengakuan bahwa kebaikan dapat lahir dari siapa saja, tanpa memandang profesi maupun status ekonomi.
Wali Kota Bima juga mengaku bangga dan terharu atas keteladanan yang ditunjukkan Yuliatin.
Menurutnya, apa yang dilakukan penjual ikan keliling asal Kolo tersebut menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan tidak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar kepedulian terhadap sesama.
Di tengah kehidupan yang semakin keras, kisah Yuliatin menjadi bukti bahwa tangan yang bekerja keras mencari nafkah pun tetap mampu menjadi tangan yang ringan untuk berbagi.
*Kahaba-04













