Kabar Bima

Pasca Banjir, 4 Kepala Keluarga ini Masih Hidup di Tenda

361
×

Pasca Banjir, 4 Kepala Keluarga ini Masih Hidup di Tenda

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Malang nian nasib 4 keluarga di Kelurahan Penaraga Kota Bima ini. Bagaimana tidak, pasca banjir bandang yang menerjang, mereka masih hidup beralaskan tenda. Sebab, rumah mereka hanyut dihempas bencana.

Pasca Banjir, 4 Kepala Keluarga ini Masih Hidup di Tenda - Kabar Harian Bima
Rusdi berdiri didepan tenda tempatnya tinggal pasca banjir. Foto: Bin

Kondisi kehidupan mereka sungguh memperihatinkan. Hanya beralas tenda seadanya, 4 Kepala Keluarga itu menghabiskan waktu dan hari-hari dibawah panas dan hujan. Sudah 3 bulan setelah bencana, tak ada tanda-tanda kehidupan mereka yang berdomisili di RT 08 dan 09 itu mendapat sentuhan dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Pasca Banjir, 4 Kepala Keluarga ini Masih Hidup di Tenda - Kabar Harian Bima

Saat disambangi pekerja media, Rusdin Abdul Hamid salah satu kepala keluarga mengaku hanya berharap ada perhatian dari pemerintah. Membantu bangun rumah seadanya atau semi permanen untuk tempat tinggal. Agar tidak kedinginan dan kepanasan dibawah terpal.

“Pemerintah sudah turun dan melihat kondisi kami dan memberikan sejumlah bantuan. Tapi kami berharap rumah kami juga dibantu bangun,” harap pria yang sudah diserang stroke dan ditinggal pergi olah istrinya tersebut.

Di tempat yang sama, Sumarni juga berharap yang sama. Karena kehidupannya sekarang sudah tidak memiliki apa-apa. Hanya hidup seadanya dengan satu anak gadis dibawah tenda yang sudah usang.

Sumarni menuturkan, banjir bandang di lingkungannya waktu itu setinggi 2 meter lebih. Rumah panggungnya hanyut dibawa banjir. Seisi rumah pun tak ada yang bisa diselamatkan.

Kendati pemerintah sudah hadir membawa bantuan seperti Sembako, terpal, kompor, alat masak, dan sejumlah bantuan lain. Dirinya juga berharap pemerintah membantu bangun rumah untuknya.

“Pemerintah sudah janji akan bantu bangun rumah dengan uang Rp 40 juta. Tapi hingga saat ini belum ada kabar,” katanya.

Dia menambahkan, hidup dibawah tenda hanya bisa ikhlas menerima keadaan. Saat panas, harus kepanasan. Kemudian saat hujan, harus kedinginan dan merasakan gerimis didalam tenda. Bahkan beberapa kali terpal yang dijadikan sebagai atap diganti.

*Kahaba-01