Yuyan: Muncul Grand Strategi Saat Bentrok

Kota Bima, Kahaba.- Wakapolres Bima Kota Kompol. Yuyan Priatmaja, SIK mengaku, saat bentrok warga Kelurahan Dara-Tanjung, pihaknya menganalisa muncul grand strategi yang ingin dilakukan sekelompok oknum untuk menciptakan instabilitas daerah. (Baca. Bentrok Dara-Tanjung Pecah, Satu Orang Tewas)

Wakapolres Bima Kota Kompol. Yuyan Priatmaja, Sik. Foto: Teta

Wakapolres Bima Kota Kompol. Yuyan Priatmaja, Sik. Foto: Teta

Gerakan itu, kata dia, jika tidak segera diantisipasi, maka bentrok akan semakin meluas dan berdampak buruk bagi keamanan daerah.

“Kejadian bentrok itu punya dampak yang sangat luar biasa. Jika polisi tidak bergerak cepat dan menghentikannya, salah satunya dengan penyisiran, maka potensi bergeraknya grand strategi itu besar,” ujarnya saat memberikan klarifikasi soal bentrok di gedung DPRD Kota Bima, Rabu (14/1).

Ia menceritakan, bentrok kedua itu terjadi berawal di depan SMK 1 Kota Bima, terjadi pemukulan dan berkembang luas. Insiden itu kemudian dimanfaatkan pihak lain yang memperkeruh suasana dan bentrok pun pecah.

Pihaknya sudah berupaya maksimal untuk menghentikannya. Berbagai upaya dilakukan, tapi masyarakat tetap memprovokasi satu sama lain. Setelah diredam, diprovokasi lagi. Bahkan pihaknya sudah menghubungi tokoh masyarakat untuk meredam kondisi, namun gagal.

“Yang aneh, polisi yang berusaha menolong warga yang tertembak, malah dituduh polisi yang menembak. Tersiarlah berita tersebut dan terus memprovokasi warga,” ceritanya.

Kemarahan warga tak terbendung, titik awalnya ingin menyerang Polsek Rasanae Barat. Tidak berhasil, kemudian warga meluapkan kemarahan dan membakar Pos Polisi (Baca. Isu Warga Ditembak Polisi, Kantor Polsubsek Kota Dibakar). Setelah itu, berdasarkan sejumlah dokumentasi Polisi pun bertindak dan mengambil langkah-langkah.

“Jika kami tidak lakukan itu, maka grand strategi itu akan berdampak buruk bagi daerah. Belum lagi penyebab utama yang juga tidak bisa kami beberkan, karena menyangkut masalah institusi. Tapi kami sudah melakukan antisipasi sesuai prosedur,” jelasnya.

Sambung Yuyan, Protap meredam bentrok dilakukan dengan bertahap, sampai ke tahapan penggunaan kekuatan polisi terhadap konflik. “Tahapan pertama kita coba menengahi, karena sudah anarkis, terpaksa tahapan penggunaan kekuatan kita gunakan,” tuturnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *