Polemik Bibit Bawang, Tayeb Berikan Penjelasan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Setelah lama mendapat sorotan terkait indikasi penyimpangan pengadaan bibit bawang merah, Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura dan Tanaman Pangan Kabupaten Bima, M Tayeb akhirnya memberikan penjelasan. (Baca. Pengadaan Bibit Bawang Rp 18 Miliar Bermasalah)

Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura dan Tanaman Pangan Kabupaten Bima, M. Tayeb. Foto: Berita11.com

Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura dan Tanaman Pangan Kabupaten Bima, M. Tayeb. Foto: Berita11.com

Tayeb membantah tudingan pengadaan bibit bawang merah senilai Rp 18 Miliar tidak sesuai petunjuk tehnis dan mekanisme. Mulai dari bantahan soal indikasi bibit bawang dalam kondisi busuk karena tidak berkualitas. Menurutnya, spek bibit bawang sudah sesuai petunjuk tehnis yakni jenis Super Philips dan Keta Monca produk lokal. (Baca. Dewan Desak Kadis Pertanian Dievaluasi)

“Kalau bibit bawang busuk yang dibawa di kantor, kita tidak tahu dari mana asalnya. Yang jelas itu bukan bawang yang kita berikan. Bibit bawang yang kita bawa itu, karungnya jelas, pasti ada label. Kalau tidak ada label, itu bukan bibit bawang dari kita,” elak Tayeb saat menghadiri panggilan Komisi II DPRD Kabupaten Bima, Rabu (30/9) siang. (Baca. Bibit Bawang Gratis Banyak Dijual Warga)

Tayeb menegaskan, apabila memang benar ada bibit bawang rusak dipersilahkannya untuk dibawa dengan memperlihatkan bukti label. Kalau terbukti memang rusak dipastikan akan menggantinya. Tetapi kalau bibit bawang yang dibawa tidak punya label dan kelihatan bawang baru, pihaknya tidak punya kewenangan untuk mengganti.

“Bawang yang kami berikan itu minimal 50 hari sudah dipersiapkan lebih dulu, bukan langsung dibagikan. Pihak ketiga memang mengambil bibit bawang di Bima dengan spek bibit Super Philips dan Keta Monca,” jelasnya.

Mekanismenya  jelas dia, dinas memerintahkan pengusaha bekerjasama dengan penangkar. Kemudian penangkar mengambil pada Kelompok Tani yang memiliki kualitas bibit bawang bagus pada Bulan Mei lalu. Mereka harus membeli bibit dengan kualitas sesuai petunjuk, kalau membeli selain itu maka sudah keliru.

Para Penangkar yang bekerjasama dengan Pengusaha sudah puluhan tahun berpengalaman. Mereka tidak hanya menjual bibir di daerah kita. Tetapi juga di luar daerah, seperti di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan NTT. Kemudian, terkait harga bawang, menurut Tayeb itu berlaku secara nasional. Pada saat bulan Agustus, dan September dilakukan panen raya disejumlah daerah. Seperti di Pulau Jawa, Sulawesi dan Sumatra.

Saat itu lanjutnya, hasil produksi bawang meningkat dan otomatis mempengaruhi harga bawang di daerah. Justru harga bawang di Bima masih cukup tinggi dibandingkan di daerah lain, misalnya Cianjur dan Brebes. Harga bawang didua daerah itu hanya berkisar antara Rp.400 ribu sampai Rp.600 ribu per 100 kilogram.

“Sementara di Bima harga bawang berkisar Rp.600 ribu sampai Rp.700 ribu per 100 kilogram. Saat ini, harga bawang mulai perlahan naik sesuai dengan produksi yang ada,” akunya.

Jadi harga bawang tegasnya, tidak bisa diatur fluktuasi harganya. Hal itu sangat bergantung pada hasil produksi. Sebab gabah saja yang diatur harganya, bisa berubah dalam waktu seketika.

Lalu soal tudingan bibit bawang tidak sesuai dengan spek, Tayeb mengklaim sudah sudah sesuai mekanisme. Pihaknya mengajukan kepada Unit Layanan Pengadaan (ULP) agar pengadaan bawang dilakukan dengan tender terbuka. Orang mana saja bisa ikut. Ada sekitar 20 perusahaan yang masuk mengikuti tender saat itu. Oleh ULP sudah menetapkan CV Agro Pratama sebagai perusahaan pemenang tender.

Setelah itu, pihaknya melakukan tandatangan kontrak untuk pengadaan bibit bawang merah. Sebab, bibit wajib ditanam pada Bulan September 2015 dan itu semua sudah ditanam. Jumlahnya sebanyak 501 Ton lebih dengan anggaran Rp.17 Miliar lebih.

“Disitu ada beberapa komponen, ada bibit bawang, fungisida dan pupuk organik. Sementara untuk kelompok yang mendapatkan sudah dilakukan verifikasi berkali-kali sesuai dengan petunjuk tehnis,” tandasnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *