Sejumlah Guru Dilapor Polisi, SMPN 6 Kembali Bergejolak

Kota Bima, Kahaba.- Disharmonisasi sejumlah guru dengan Kepala SMPN 6 Kota Bima kini kembali terjadi. Pasalnya, beberapa orang guru setempat dilaporkan ke polisi oleh kepala sekolah, karena aksi penyegelan beberapa waktu lalu.

Guru SMPN 6 Kota Bima Abubakar. Foto: Eric

“Kami memerotes sikap kepala sekolah yang melapor ke Polisi. Karena 5 guru tersebut tidak bersalah. Kepala sekolah yang suka bersikap arogan,” tuding perwakilan guru Abubakar, yang ditunjuk sebagai juru bicara, Kamis kemarin.

Abubakar mengaku, sejak mengabdi 23 tahun di SMPN 6 dengan proses 5 kali pergantian kepala sekolah. Baru kali ini ada konflik yang begitu lama dan berdampak pada semua guru.

“Saya sedih, kondisi sekolah yang kondusif selama ini ternoda karena pergantian satu orang ini,” cetusnya.

Ia membeberkan, awalnya guru lain tidak tidak bereaksi atas ulah kepala sekolah yang menurutnya kerap sepihak membuat keputusan dan membohongi guru. Kejadian penyegelan terjadi, karena kepala sekolah tidak pernah menggubris upaya guru mengelarifikasi soal usulan mutasi yang beredar.

Padahal sebelumnya, kepala sekolah sempat mendatangi rumah salah satu guru dan meminta maaf atas kekeliruannya membuat usulan mutasi. Bahkan kepala sekolah sempat menunjukkan surat pengunduran dirinya sebagai kepala sekolah.

Namun lanjutnya, semua yang dilakukan kepala sekolah tersebut hanya bentuk upaya meredam reaksi guru. Setelah dicek ke Dikbud, ternyata kepala sekolah tidak pernah mengajukan surat pengunduran diri ke dinas Dikbud.

“Itu jelas berbohong, sehingga guru marah dan menyegel ruangan kepala sekolah. Sebab sebelumnya ditemui baik-baik untuk klarifikasi, selalu menghindar dan malah membohongi,” ungkap Abubakar yang diamini puluhan guru lain yang berkumpul di ruang guru.

Bagi semua guru, 5 guru yang dilaporkan ke polisi merupakan guru-guru berprestasi dan sudah mencetak banyak prestasi di sekolah. Sehingga, sangat tidak adil jika persoalan internal dibawa hingga ke ranah hukum.

“Selama ini kami selalu bisa bekerjasama, tidak pernah ada konflik. Prestasi kami raih sama-sama dan saling dukung. Bukan guru yang salah, tapi kepala sekolah,” tandasnya.

Abubakar dan guru lain berharap, dinas bisa lebih bijak melihat posisi dalam masalah ini. Seharusnya, dinas bisa memilih menyelamatkan orang banyak daripada satu orang yang arogan.

Sementara itu Kepala SMPN 6 Kota Bima Arif Wahidin yang dimintai klarifikasi, kembali menjawab tidak mau berpolemik terlalu jauh.

“No Coment,” jawab singkatnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *