Menembus Pagi Menuju Peradaban Multietnis ~EKSPEDISI TAMBORA (1)

Gunung Tambora adalah sebuah supervolcano yang letusannya pada tahun 1895 telah menggelapkan sebagian besar belahan dunia. Sudah banyak kisah sejarah yang tercatat berkaitan dengan gunung berapi yang terletak di Kabupaten Bima (Pulau Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat) ini. Dalam serial catatan perjalanan kali ini redaksi, seperti yang ditulis oleh Arief Rahman, S.T ingin membagikan pengalaman menjelajahi sebagian kecil pesona Tambora pada tanggal 7 sampai 10 juni 2012.

Potret Bima, Kahaba.- Persiapan kami sebenarnya terbilang singkat, sehari sebelum perjalanan menuju Kecamatan Tambora, saya sebagai satu-satunya anggota team yang berdomisili di Kota Bima mendapatkan tugas berbelanja logistik untuk persiapan selama tiga hari yang direncanakan untuk pendakian. Sarden, mie instant, gula merah, makanan ringan, beras, parafin (bahan bakar kompor .red), juga tenda dan perlengkapan lainnya menjadi tugas saya untuk menyiapkan. Sebagian kebutuhan lainnya akan mudah didapati di desa kecamatan terdekat dari Tambora.

Bus Dunia Mas, Jurusan Bima - Calabai

Bus Dunia Mas, Jurusan Bima – Calabai

Tanggal 7 Juni, Saya memulai perjalanan menuju Kecamatan Tambora dengan menggunakan angkutan bus. Dari terminal Dara (Kota Bima), pukul 6.10 pagi bus mulai melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa kali Mutia, anggota rombongan yang start dari Kecamatan Langgudu menghubungi saya untuk memastikan bahwa ia tidak ketinggalan bus pagi satu-satunya yang mengantarkan kami menuju desa terdekat dengan starting point pendakian Tambora itu. Bersama tukang ojeknya, Mutia mengejar pemberangkatan bus Dunia Mas di terminal sampai saya kabarkan bus sudah berangkat, tempat duduknya sudah saya save, tinggal menunggu bus di depan Bandara Sultan Salahuddin Bima.

Tipikal angkutan barang di Bima

Tipikal angkutan barang di Bima

Penumpang bus jurusan Bima – Calabai itu didominasi oleh warga Tambora yang hendak kembali ke rumahnya setelah beberapa hari di Bima. Mereka biasanya menuju Bima jika hendak menjual hasil pertaniannya berupa cabe merah, kedelai, jagung, kopi, atau biji jambu mete, lalu membeli barang-barang kebutuhan hidup yang tidak tersedia di pasar kecamatan maupun di Dompu, ibukota kabupaten terdekat dari kawasan Tambora. Ada juga rombongan keluarga yang khusus datang ke Bima untuk mengikuti acara keluarga seperti pernikahan atau membawa serta anaknya dalam kesempatan kunjungan dinas ke pusat pemerintahan kabupaten. Berdasarkan latar belakang etnis, sekilas saya amati sebagian besar penumpang merupakan Dou Mbojo (orang Bima), namun tidak jarang sesekali saya mendengar celetukan dari deretan kursi belakang penumpang yang berbahasa Sasak (Lombok) dan juga Jawa.

Sabana Tambora

Sabana Tambora

Ketika bus memasuki desa Sori Utu dan menaikkan penumpang,  kami yang sedang dalam kondisi terkantuk-kantuk diatas bus mendadak melek sambil tersenyum ketika mendengarkan seorang ibu-ibu penjual cabe merah berbincang dengan penumpang lainnya yang naik dari Bima. Uniknya kedua tokoh dalam cerita ini berasal dari etnis yang berbeda, sang ibu penjual cabe merupakan inaq (ibu) asli sasak yang tak bisa berbahasa Indonesia sedangkan sang ina (ibu) penumpang bus yang naik bersama saya di terminal Dara merupakan warga asli Bima, juga tak menguasai bahasa persatuan negara ini. Anehnya, proses dialogis antara satu dengan yang lain berlangsung dengan lancar meskipun tak melibatkan bahasa Indonesia, mereka saling menimpali pembicaraan dengan bahasa ibu masing-masing tanpa kesulitan yang berarti.

Kawasan lingkar Tambora memang secara sosiokultur merupakan wilayah yang multietnis. Sebagai daerah tujuan transmigran, belasan  unit pemukiman transmigrasi di wilayah Tambora yang meliputi Kabupaten Bima dan Dompu diisi oleh penduduk yang didatangkan dari luar kabupaten seperti dari pulau Lombok, Bali, Jawa, Sulawesi, Sumatera, maupun Nusa Tenggara Timur seperti Manggarai, Flores dan Larantuka. Tentunya secara komposisi, dominasi utama asal penduduk Tambora adalah masyarakat Bima dan Dompu yang jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan daerah lain. Rupanya suku dan bahasa masyarakat yang heterogen di Tambora bukan menjadi penghalang yang berarti dalam proses interaksi dan komunikasi verbal yang mereka lakukan sehari-hari.

Bus yang semenjak awal penuh dengan penumpang kian terasa sesak begitu meninggalkan terminal Bima. Pada beberapa titik bus berhenti dan menaikkan lebih banyak lagi penumpang kedalamnya, tipikal angkutan umum nusantara, pikirku. Kondektur bus yang sempat saya tanyakan mengenai jumlah total penumpang tak mampu menjawab pasti. “mungkin sudah mencapai seratus orang, bila dijumlahkan semua penumpang yang naik dan turun,” terkanya.  Karena ruang didalam bus tak mampu menampung lebih banyak lagi orang, penumpang pun menempati atap mobil bersama barang-barang termasuk tas carrier dan barang-barang lain yang kami bawa.

Pasar Kadindi

Pasar Kadindi, geliat ekonomi Tambora

Setelah bus beberapa kali berhenti diantaranya karena insiden pecah ban di tengah savana Doro Ncanga dan juga untuk beristirahat sejenak di pantai Ho’do, akhirnya pada pukul 13.30 kami tiba di desa terakhir yang dilalui bus. Adalah Kadindi, sebuah desa di kecamatan Pekat (Dompu) yang menjadi pusat perdagangan di wilayah lingkar Tambora, turun dari bus kami langsung menuju penjual bakso untuk menuntaskan dahaga dan lapar selama di perjalanan. Tujuh jam terguncang di dalam  bus yang melaju diatas jalan berbatu-batu membuat semangkuk bakso yang kami makan terasa nikmat dan berarti.

Dari Kedindi kami harus berganti moda transportasi. Untuk menuju kawasan Kebun Kopi (Dusun Tambora Desa Oi ‘Bura Kabupaten Bima) harus ditempuh dengan sepeda motor selama kurang lebih 1,5 jam. Jalan yang dilalui sampai desa Pancasila (Kabupaten Dompu) kondisinya sangat bagus karena baru saja diaspal hotmix. Dari Pancasila ke Oi ‘Bura medan berubah drastis menjadi jalan tanah yang sempit dan licin karena baru terguyur hujan. Menyusuri jalan tanah dengan kecepatan tinggi di tengah hamparan kebun kopi menjadi sensasi tersendiri bagi saya yang baru merasakan. Untungnya tukang ojek yang kami tumpangi begitu lincah mengendalikan kendaraan sehingga kami bersama barang bawaan yang terbilang berat selamat sampai tujuan.

Di Oi ‘Bura kami disambut oleh Mas Habib, pengajar muda yang mengabdi di desa Oi ‘Bura Tambora dan mas Sugeng, pimpinan Mapata (klub pecinta alam lokal) yang akan menjadi guide sekaligus tuan rumah yang akan kami tumpangi sebelum memulai perjalanan mendaki Tambora keesokan harinya. Bagus, Beryl, dan Shally yang berencana ikut mendaki rupanya masih berada di desa lain, mereka akan bergabung beberapa jam menjelang start, ba’da sholat jumat dilaksanakan.

Berada di desa yang sejuk dengan pemandangan khas komplek perkebunan kopi warisan Belanda tidak kusia-siakan. Setelah melakukan cek akhir perbekalan, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar guest house lalu mengistirahatkan diri. Kelelahan selama diperjalanan harus dipulihkan, karena esok kami akan menjadi lebih lelah lagi dengan mendaki.[BQ]

Rangkaian Seri EKSPEDISI TAMBORA:

  1. Menembus Pagi Menuju Peradaban Multietnis ~EKSPEDISI TAMBORA (1)
  2. Kebun Kopi Yang Pernah Berjaya ~ EKSPEDISI TAMBORA (2)
  3. Berjibaku Dengan Pacet Dan Jelatang ~ EKSPEDISI TAMBORA (3)
  4. Di Puncak Yang Mengubah Sejarah Dunia ~ EKSPEDISI TAMBORA (4)
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *