Hidup Susah di Rumah Reot Samping Kantor Desa, Pemdes Mpuri Tutup Mata

Kabupaten Bima, Kahaba.- Meskipun rumahnya dekat dengan kantor desa, Nur Intan A Hamid warga RT 01 Desa Mpuri Kecamatan Madapangga yang hidup di bawah garis kemiskinan, malah tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah desa setempat.

Intan saat memandikan anaknya di depan rumah. Foto: Yadien

Intan tinggal bersama suaminya yang bekerja sebagai buruh tani dan kedua orang anaknya yang lumpuh sejak kecil yakni M Afrijal (2) dan Rizki (7). Kondisi kedua anaknya yang seperti itu, membuat ia tidak bisa membantu suami mencari nafkah. Padahal niatnya sangat besar, bisa membantu suami mencari uang, agar bisa memperbaiki rumah mereka yang sudah tidak layak huni.

Katanya, pemerintah desa setempat sering mengambil gambar rumahnya dengan alasan didata untuk mendapatkan bantuan. Namun, bantuan tersebut hingga sekarang tidak kunjung didapat.

“Saya hanya diiming-imingi bantuan saja selama ini,” ujarnya.

Intan menyesalkan ulah pemdes setempat yang hanya bisa berjani agar memberi bantuan. Sementara bantuan tidak pernah ada. Jika ada niat baik, kondisi hidupnya yang serba susah sudah sepatutnya mendapatkan bantuan.

“Ada rumah tidak layak huni di dekat kantor desa. Masa mereka tidak lihat?” tanyanya.

Kata Intan, dirinya juga pernah dijanjikan akan dipasangkan meteran listrik gratis oleh pemerintah desa. namun realisasi saat listrik dipasang, dirinya ditarik uang sebanyak Rp 650 ribu oleh pemerintah desa.

“Katanya gratis, tapi tetap ambil uang kami,” keluhnya.

Tetangga Intan, Burhan membenarkan bahwa keluarga Intan sangat memprihatinkan. Pasalnya, hidup di atas rumah reot yang belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Desa Mpuri. Sementara kedua orang anaknya tidak bisa berjalan karena lumpuh.

“Jangan kan untuk jalan, duduk saja mereka tidak bisa. Parahnya tidak bisa bicara,” katanya.

Ia membeberkan, pemerintah desa setempat memang sering mendatangi rumah Intan untuk mengambil gambar dan lainnya untuk keperluan agar dapat bantuan. Tapi sampai sekarang tidak pernah ada realisasi.

“Kasihan memang. Keadaan hidupnya sangat susah, tapi Pemdes tutup mata,” tuturnya.

Burhan berharap kepada pemerintah agar bisa membantu keluarga Intan, karena biar bagaimanapun pemerintah wajib membantu warga msikin.

*Kahaba-10

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *