Film La One Cinta Untuk Ina, Pertarungan Intrik, Propaganda dan Kejujuran

Kota Bima, Kahaba.- Inspirasi Sinema menggelar konferensi pers penggarapan Film La One Cinta Untuk Ina, di Yuank Kafe, Minggu malam (25/8). Film layar lebar pertama yang digarap para seniman Bima itu akan menggambarkan wajah pacuan kuda Bima pada era tahun 1990-an.

Jumpa pers garap film La One Cinta Untuk Ina di Yuank Kafe. Foto: Bin

Sutradara Film La One Cinta Untuk Ina, Awaluddin Tahir menceritakan, tidak disangka jika proses mengerjakan project film tersebut sudah separuh jalan. Karena ini semua bermula dari keinginan dan mimpi bersama ingin membuat sesuatu untuk Bima. Dan percaya sekali waktu, keinginan itu akan diwujudkan.

“Bermula dari Facebook, akhirnya intens menyampaikan rencana itu dengan Pak H Fahruddin dan Tommee Balukea. Alhamdulillah, mimpi kita ingin buat sesuatu untuk Bima bisa kita garap sekarang dengan Film La One Cinta Untuk Ina,” ujarnya.

Kata Awaluddin, membuat film itu amat tidak mudah, apalagi layar lebar. Karena segala sesuatu harus benar – benar dipersiapkan. Termasuk mendapatkan pemeran yang tepat dengan gendre film drama advanture.

Namun Tuhan telah mengatur segalanya. Di tengah kegelisahannya mencari seorang joki cilik sebagai pemeran utama film tersebut, Awaluddin beruntung bisa melihat Ryan, joki cilik yang berusia 7 tahun sedang bertarung di Pacuan Kuda Panda.

“Saat itu Ryan terjatuh dan dikeluarkan dari arena pacuan, lalu saya hampiri, saya melihat La One pada sosok Ryan,” ungkapnya.

Beberapa hari kemudian proses casting untuk pemeran film yang lain pun terus dilakukan. Mencari pemain film menurutnya, begitu sulit. Proses pada hari – hari terakhir casting pun baru menemukan para pemain yang tepat.

Awaludin menjelaskan, motivasi membuat film layar lebar  Bima pertama ini bukan ingin menyampaikan tentang kebudayaan dan pacuan kuda. Tapi nilai-nilai kebaikan yang dikemas dalam olahraga tersebut. Seperti sportivitas yang harus dijunjung tinggi, kendati semua mengetahui bahwa kompetisi pada pacuan kuda ini penuh intrik dan propaganda.

Namun dari La One dan Ina (Orang Tua La One) yang terus menanamkan nilai – nilai kejujuran dan kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan, meski saat bertarung menjadi yang terbaik pada arena pacuan kuda.

“Dari Film paling tidak kami berharap, ada propaganda yang positif yang disampaikan. Seperti kemenangan dalam kompetisi bukan tujuan utama, tapi mencapai kemenangan dengan cara benar, sportif dan kejujuran menjadi kemenangan yang sesungguhnya,” paparnya.

Di tempat yang sama, Produser Film La One Cinta Untuk Ina H Fahruddin menyampaikan, film ini akan membalik situasi yang nyata menjadi situasi yang ideal untuk disampaikan. Dalam film ini akan banyak nilai – nilai kebaikan dan edukasi.

Para pemeran Film La One Cinta Untuk Ina. Foto: Bin

“Nilai-nilai itu tidak hanya ditunjukan oleh La One, tapi oleh Ina dan orang-orang di sekitarnya. Film ini akan benar- benar menjunjung tinggi nilai sprotifitas, kejujuran dan integritas,” jelasnya.

Tommee Balukea, seniman kelahiran Rabadompu Kota Bima juga mengambil bagian penting pada film tersebut. Seluruh aransemen dan lagu yang menceritakan tentang La One akan digarapnya dengan sejumlah lagu berbahasa Bima, Bahasa Indonesia dan bahkan lagu Bahasa Inggris.

“Terus terang Ini menjadi kebanggaan buat saya sebagai putra Bima yang sudah melanglangbuana. Saya selalu bermimpi untuk terlibat pada project begini saat berada di Eropa, dan saat ini terwujud,” ucapnya.

Ikut dan dapat bagian penting pada Film ini kata Tommee seolah membawanya untuk bernostalgia pada masa kecilnya di Bima. Tentang pacuan kuda dan joki yang berkompetisi dengan deru dan debu. Kegigihan dan keberanian anak – anak menunggangi kuda, mempertaruhkan segalanya.

Pada Film ini, sudah terbayang olehnya lagu yang memang sudah dibuatkan sejak dulu. Hanya saja, belum dirampungkan dengan lirik. Pada film itu, lagu utama yang digarapnya berjudul Buah Hati. Bercerita tentang seorang anak yang ingin menolong ibunya.

“Ini kesyukuran buat saya bisa berkarya untuk tanah kelahiran, dengan senang hati sekali saya bisa membuat soundtrack pada film ini,” katanya.

Tommee menambahkan, karena film ini bercerita tentang Bima. tentu unsur musik Bima akan ia keluarkan. Seperti kareku kandei, gambo, biola. Musik yang selama ini pun ia bawakan di sejumlah negara-negara di Eropa.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *