Perdalam Pengetahuan Kearifan Lokal, Guru SMP Ikut Seminar Kebudayaan

Kota Bima,  Kahaba.- Untuk menambah pengetahuan untuk para pendidik, Dinas Kebudayaan Pendidikan dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Bima menghelat Seminar Kebudayaan Sehari di Museum ASI Mbojo, Senin (26/8).

Seminar Kebudayaan yang digelar Dikbudpora Kabupaten Bima. Foto: Hardi

Seminar dengan tema Kearifan Lokal Sebagai Basis Transformasi  Nilai-Nilai  Pendidikan Dalam Menghadapi Revolusi iIndusri 4.0, dihadiri sejumlah guru IPS dan Muatan Lokal tingkat  Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Bima.

Kabid Kebudayaan Dikbudpora Kabupaten Bima Abdul Salam Gani menyatakan, tujuan digelarnya seminar ini agar tenaga pendidik mengetahui bahwa nilai kearifan lokal begitu penting dan berguna bagi generasi penerus bangsa, sehingga dapat ditransformasikan ke anak didik.

“Kegiatan ini menekankan agar guru dapat mendapatkan informasi bahwa penanaman kearifan lokal berbasis pendidikan sejak dini, dapat memacu anak lebih fokus belajar dan anak tidak kehilangan arah,” jelasnya.

Mantan Kepala Sekolah SMPN 1 Bolo ini menguraikan, kegiatan ini tidak hanya digelar sekali ini saja, tetapu akan ada tindaklanjut seminar kebudayaan di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Bima.

“Ini kegiatan yang sangat bagus, kami akan membagi pada beberapa kecamatan, agar seluruh guru mendapatkan pengarahan materi yang sama agar diajarkan ke siswa-siswi,” katanya.

Sementara itu Syukri Abubakar yang juga dihadirkan sebagai narasumber menyampaikan hal senada. Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu pesat di masyarakat sangat berpengaruh pada pola pikir, tidak terkecuali siswa dan siswi di sekolah.

“Teknologi begitu canggih, sehingga anak-anak pun menjadi tergiur dengan banyak hal yang ditampilkan di media sosial ( Medsos). Tentu ini sangat membahayakan pola pikir generasi,” ujarnya.

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi beragam informasi dan pengetahuan dari teknologi yang merusak pemikiran adalah dengan memberi pemahaman kearifan lokal yang bernilai edukasi kepada anak, sehingga anak dapat mengantisipasi informasi negatif lebih awal.

“Ada kearifan lokal seperti Nggusu Waru, dan budaya Bima lain yang dianggap memiliki nilai pendidikan yang tinggi, dan harus ditransformasikan lebih awal,” tuturnya.

*Kahaba-07

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *