Wartawan Minta Bina Polisi Yang Tak Paham Tugas

Kota Bima, Kahaba.- Insiden pemukulan, pengancaman dan menghalang-halangi tugas jurnalistik yang dilakukan oleh aparat Polisi kini menjadi atensi baru bagi kepolisian. Sikap arogan aparat tersebut dinilai tidak mencerminkan sikap polisi yang semestinya bisa mengayomi, melindungi masyarakat. Pekerja media pun meminta agar Polisi yang tidak tahu aturan tersebut di bina.

Pertemuan pekerja media dengan Wakapolres Bima Kota, Senin, 30 September 2013. Foto: Gus

Pertemuan pekerja media dengan Wakapolres Bima Kota, Senin, 30 September 2013. Foto: Gus

Insiden itu ternyata sudah tiba di telinga Wakapolres Bima Kota, Kompol Muh. Nasution, SIK,  Senin, 30 September 2013. Wakapolres pun menerima puluhan orang wartawan untuk klarifikasi. Dirinya pun menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut.

Hadir juga saat itu Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bima, Rafidin HB, S.Sos, dan sejumlah wartawan senior, Rijal dan Syafrudin. Mereka meminta kepada polisi untuk bersikap profesional dalam menjalankan tugas. Karena pilar demokrasi itu, tidak hanya lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif (Aparat penegak hukum,red), tapi juga pers. “Ada empat pilar demokrasi. Selain polisi, pers juga termasuk di dalamnya. Dan tugasnya masing-masing sudah diatur dalam UU,” jelas Rijal.

Kata dia, media punya posisi penting dalam perkembangan demokrasi. Jika tugas yang sudah diatur dalam UU dihalang-halangi, maka yudikatif atau aparat tidak paham akan fungsi dan tugas masing-masing. “Tidak ada hak polisi melarang wartawan untuk menjalankan tugas jurnalistiknya,” sorot pria asal Donggo itu.

Menurutnya, selama ini dalam menjalankan tugas, polisi selalu bersama dengan wartawan. Seperti aksi massa yang melakukan protes di jalanan. Namun dirinya mengaku heran, tiba–tiba saja Polisi seolah tidak memahami fungsi dan tugas masing-masing.

Hal senada juga disampaikan oleh Rafidin, pemilik koran Stabilitas itu menyanyangkan sikap arogan yang ditunjukan oleh polisi saat wartawan meliput bentrok antar mahasiswa dengan pegawai kantor DPRD Kabupaten Bima itu. Dirinya pun meminta agar oknum polisi tersebut dipanggil dan diberikan pembinaan. “Tolong di bina oknum polisi itu Pak,” pintanya kepada Wakapolres Bima Kota.

Dirinya juga meminta kepada Wakapolres Bima Kota, agar menginstruksikan kepada anak buahnya untuk tidak melakukan hal yang serupa ke depannya. “Cukup kali ini saja terjadinya insiden seperti ini. Kami minta ke depan, kita lebih profesional dalam menjalankan tugas,” tambahnya. [BK/BM/AL/BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *