Kasus Anak Tinggi di Bima, Pemerintah Diminta Turun Tangan

Kota Bima, Kahaba.- Beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan, pencabulan dan pemerkosaan terhadap anak terbilang tinggi di Kota maupun Kabupaten Bima. Baik anak yang menjadi pelaku maupun korban, namun setiap pekan selalu saja ada kasus anak yang masuk dalam berkas para penegak hukum. (Baca. Awal Tahun Ini, LPA Bima Tangani 50 Kasus)

Ilustrasi

Ilustrasi

Anggota DPRD Kota Bima, H. Armansyah, SE minilai angka kasus anak yang semakin meningkat itu darurat dan harus segera disikapi secara seksama. Tidak saja peran pengawasan yang maksimal dari orang tua, pengawasan guru di sekolah, tapi juga perhatian pemerintah yang penuh untuk pencegahan.

“Ini masalah penting untuk diberikan perhatian khusus. Kami sebagai Wakil Rakyat juga memandang perlu mendorong Pemerintah eksekutif agar bersama – sama turun tangan dalam bertindak dan mencegah,” ujar H. Armansyah, Selasa (12/5).

Menurut dia, anak itu labil, bersikap dan bertindak pun tidak dengan pertimbangan yang matang. Dampak yang akan ditanggung pun tidak terbesit dalam pikiran. Tetapi, kriminalisasi terhadap anak pun akan berkurang jika semua pihak, baik orang tua, guru dan pemerintah bisa bersama – sama memikirkan bentuk pencegahannya.

“Kami rasa Lembaga Perlindungan Anak (LPA) sudah menjalankan perannya dengan baik, melakukan pendampingan kepada anak yang menjadi pelaku maupun korban. Tapi peran besar pemerintah sekarang yakni melakukan pencegahan, dengan bentuk apapun, ini harus segera dikurangi,” tegasnya.

Rencana LPA untuk membentuk rumah AMAN untuk para korban pun sangat disepakati duta PKS itu. Pertimbangannya, daripada anak yang menjadi pelaku harus berada di dalam Bui dan tumbuh kembang bersama para Napi lain, lebih baik diberikan pembinaan di Rumah AMAN.

“Rumah AMAN tentu memiliki pembinaan untuk tumbuh kembang anak, ada juga psikolog yang akan mendampingi,” jelasnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *