Konsep Ekonomi Berbagi Tumbuh Menjadi Konsep Bisnis yang Menjanjikan

Kota Bima, Kahaba.- Dosen muda yang bergelar Magister Manajemen Aris Munandar ditunjuk untuk menyampaikan orasi ilmiah pada rapat senat terbuka dalam rangka wisuda Sarjana Ekonomi Angkatan ke-XIV tahun 2017, di Convention Hall, Selasa (8/8). (Baca. 141 Mahasiswa STIE Diwisuda, Firdaus: Ini Indikator Akuntabilitas Mutu STIE)

Dosen STIE Bima Aris Munandar. Foto: Bin

Melalui kesempatan itu, Aris memaparkan konsep berbagi telah tumbuh menjadi konsep bisnis yang sangat menjanjikan. Orasi itu diberi judul “Meretas Sukses Ekonomi Berbagi di Era Teknologi”.

Menurut Aris, istilah ekonomi berbagi (sharing economy) sebenarnya baru dikenal pada awal tahun 2000-an. Amerika Serikat atau lebih tepatnya Silicon Valley sering disebut sebagai tempat lahirnya ekonomi berbagi modern sekarang ini.

“Prinsip dasar dari konsep ekomoni berbagi adalah ‘peer-to-peer’ atau berbagi antar sesama pelaku bisnis atau dalam sebuah jaringan yang memang dibentuk untuk mengatur semuanya,” jelasnya dihadapan wisudawan dan tamu undangan yang hadir.

Pada awalnya kata dia, ekonomi ini sangat mengandalkan kepercayaan antara pemilik dengan penyewa. Ekonomi berbagi mengandalkan partisipasi banyak pihak untuk memberi layanan tertentu, yang pada akhirnya menciptakan nilai tersendiri, kemandirian, dan kesehjateraan.

Ekonomi berbagi sering kali digunakan untuk menjelaskan aktivitas ekonomi dan sosial yang melibatkan transaksi. Awalnya tumbuh dari komunitas sumber terbuka untuk merujuk berbagi akses barang dan jasa yang berdasarkan sejawat ke sejawat. Istilah ini sekarang sering digunakan dalam arti yang lebih luas untuk menjelaskan segala transaksi penjualan yang dilakukan melalui pasar dalam jaringan, bahkan dalam bisnis ke bisnis.

Menurutnya, dalam membangun konsep ekonomi berbagi ada 10 komponen yaitu manusia, produksi, sistem dan nilai, distribusi, planet, kekuatan, hukum berbagi, komunikasi, kultur dan berkelanjutan.

“Yang terpenting dari itu semua adalah ekonomi berbagi menekankan prinsip perwujudan harmoni yang tersinergi antar manusia dan juga dengan alam,” paparnya.

Dalam keseharian manusia modern sambung pria jangkung itu, konsep ekonomi berbagi juga sudah dikenal lama. Bentuk yang paling sederhana dari konsep ekonomi berbagi adalah pinjam meminjam uang antar tetangga. Bank juga pada hakekatnya menerapkan konsep ekonomi berbagi, di mana bank mempertemukan antara pemilik sumberdaya dan pemakai sumberdaya.

Ketua STIE Bima bersama jajaran dan perwakilan Kopertis Wilayah VIII. Foto: Bin

Perkembangan bisnis ekonomi berbagi pun mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan di era modern. Dulu sebelum konsep ekonomi berbagi belum banyak diketahui oleh orang-orang, perusahan-perusahan kelas dunia saat itu seperti Google, Citigroup, General Electric, melihatnya sebagai peluang bisnis yang sangat menjanjikan di masa depan dan sekarang ini terbukti.

“Di era internet dan teknologi canggih saat sekarang ini, konsep ekonomi berbagi terus tumbuh menjadi konsep bisnis yang sangat menjanjikan,” urainya.

Sebagai contoh di era modern sekarang ini sebutnya, perusahaan-perusahaan seperti Grab, Gojek, Uber, Bukapak. Blibli.com, Shopee, Amazon.Alibaba, merupakan perusahaan-perusahaan yang sudah mengadopsi konsep ekonomi berbagi.

Pada dasarnya mereka tidak memiliki aset fisik berupa toko atau tempat, akan tetapi hanya menyediakan wadah atau tempat melakukan transaksi secara online. Konsep bisnis yang mereka tawarkan sangat mempermudah dan memanjakan pemilik atau penjual dan pembeli atau konsumen.

“Para pelaku bisnis bisa melakukan transaksi dengan cepat dan mudah tanpa perlu bertatap muka langsung dengan pembeli atau konsumen dan tidak perlu menyediakan tempat untuk membuat toko,” ujanrya.

Dalam menjalankan bisnisnya lanjut Aris, perusahaan-perusahaan tersebut sangat memelajari sistem permintaan dan ketersediaan konsumen lalu dengan cepat menerapkannya kedalam aplikasi sehingga bisa dinikmati pelanggan, termasuk memberi promo diskon. Aplikasi yang mereka sediakan kepublik dimanfaatkan juga untuk alat komunikasi dengan konsumennya, sehingga mereka bisa memelajari lebih dalam soal permintaan.

Kata dia, konsep ekonomi berbagi merupakan fenomena di era online yang sudah merebak keseluruh dunia. Konsep ini tumbuh dan berkembang bersama dengan kemajuan teknologi. Ekonomi berbagi menjadi sangat menarik dan mudah diterapkan, karna penggunaan platform online. Siapa saja bisa menjalakan konsep ini dan tidak memerlukan modal yang cukup besar.

Misalnya ingin menjual atau beli barang dengan mudah dan efisien, hanya cukup bermodal handphone yang berbasis android dan IOS atau menggunakan perangkat komputer atau laptop yang terkoneksi dengan jaringan internet, maka dengan mudah dapat menawarkan barang ke pembeli atau mencari barang yang ini di beli.

“Penerapan konsep ekonomi berbagi pada platform online membuka kesempatan dan peluang untuk kita menjadi pebisnis yang tidak memerlukan modal cukup besar. Syaratnya kita harus melek teknologi dan mempunyai jiwa bisnis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, banyak manfaat yang bisa dipetik dari konsep ekonomi berbagi baik bagi masyarakat maupun negara. Bagi masyarakat yang menjadi pelanggan, menjadikan produk dan jasa ekonomi berbagi sebagai alternative untuk memenuhi kebutuhannya. Bagi perusahaan, keunggulan bersaing bisa dicapai dengan memaksimalkan kombinasi empat sumberdaya, yaitu teknologi online, reputasi, koordinasi dengan pemerintah dan pengelolaan database transaksi.

“Fenomena ekonomi berbagi bisa menggeser kebiasaan orang dari semula ingin memiliki beberapa sumberdaya, menjadi hanya inigin menyewa atau meminjamnya,” tambah Aris.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *