Ketua Gapoktan Menara Palsukan Tanda Tangan Sekretaris Untuk Pencairan Anggaran

Kabupaten Bima, Kahaba.- Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Menara Desa Rada Kecamatan Bolo Bohari Muslim telah memalsukan tanda tangan sekertaris Gapoktan tersebut untuk digunakan sebagai bahan pengajuan pencairan anggaran tahap ke dua.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Menara Desa Rada Kecamatan Bolo Bohari Muslim. Foto: Ist

“Dia (Bohari Muslim) mencairkan anggaran Gapoktan tanpa saya ketahui dan memalsukan tanda tangan saya,” ungkap Sekretaris Gapoktan Menara Desa Rada M Firdaus, Kamis (11/10).

Diakuinya, dia pernah ditelpon oleh Bohari untuk menandatangani LPJ pengunaan anggaran tahap pertama dengan jumlah anggaran Rp 50 juta. Namun saat itu, dirinya sedang berada di rumah sakit, meegurus pamanya yang sakit.

“Saya katakan kalau sedang di rumah sakit dan Bohari minta agar dia memalsukan tanda tangan saya untuk LPJ tersebut. Padahal kalau mereka punya niat baik, mereka bisa mampir di rumah sakit Sondosia, karena searah dengan jalur yang menuju Kota Bima,” katanya.

Namun, dirinya tidak tahu jika tanda tangannya juga dipalsukan lagi dalam permohonan pengajuan pencairan anggaran tahap kedua.

“Mereka memalsukan tanda tangan saya tanpa pengetahuan saya untuk permohonan pengajuan anggaran tahap kedua,” ungkapnya.

Firdaus tentu merasa keberatan dan akan melaporkan hal tersebut kepada Badan Penyuluh Pertanian Kabupaten Bima, agar segera memanggil dan memproses Ketua Gapoktan Menara Desa Rada. Selain itu, dalam waktu dekat dirinya juga akan melaporkan masalah pemalsuan tanda tangannya tersebut kepada pihak kepolisian.

“Ini sudah masuk tindakan pidana juga,” tegasnya.

Dia menambahkan, hingga hari ini Ketua Gapoktan Menara Desa Rada tidak pernah mengabarkan kepadanya jika anggaran tahap kedua sebanyak Rp 30 juta sudah cair. Padahal anggaran tersebut cair sejak bulan Juni 2018.

“Saya malah tahu kalau anggaran sudah cair karena diceritakan pendamping program Gapoktan,” ujarnya.

Sebagai sekretaris, dirinya juga berhak tahu tentang anggaran tersebut. Agar saat ditanya oleh masyarakat dan kelompok tani, ia punya jawaban untuk menjelaskan.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Menara Desa Rada Bohari Muslim yang dikonfirmasi mengatakan, pemalsuan tanda tangan tersebut terpaksa dilakukan, karena desakan masyarakat kelompok tani yang meminta agar anggaran Gapoktan segera dicairkan.

“Jadi waktu itu saya kalang kabut,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dirinya pernah menelpon sekretarisnya ketika sedang mengurus LPJ pengunaan anggaran tahap pertama. Namun waktu itu, sekertaris sedang sibuk dan sedang berada di rumah sakit untuk menjaga pamannya.

“Saya telpon karena adanya desakan kelompok tani agar Gapoktan membuat LPJ. Namun waktu itu sekretaris menjawab diatur saja,” katanya.

Demikian juga untuk pengajuan pencairan, dirinya pernah menelpon sekretaris untuk mengkonfirmasi nama-nama kelompok yang akan dimasukkan dalam program anggaran tahap kedua yang akan diajukan.

“Waktu itu juga jawaban beliau, atur saja karena beliau juga sedang sibuk,” ceritanya.

Ditanya apakah pernah izin dengan mengatakan langsung untuk memalsukan tanda tangan sekretarisnya? Bohari mengaku tidak pernah meminta izin secara langsung untuk memalsukan tanda tangan.

“Waktu saya telpon dijawab atur saja pada, saya pikir juga berarti saya bisa palsukan tanda tanga dia,” jelasnya.

Kemudian soal dirinya yang tidak berkoordinasi soal anggaran tahap kedua yang sudah cair. Bohari mengatakan pada saat anggaran tersebut cair dirinya sedang berkabung dan berduka. Akibatnya anggaran tersebut ada yang dia gunakan untuk kepentingan pribadi.

“Saya masih sedang cari waktu yang tepat untuk mengabarkan dan menjelaskanya,” tambahnya.

*Kahaba-10

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *