Jadi Langganan Banjir, Petani Belo Minta Pemkab Turun Tangan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kerap menjadi langganan banjir, warga Kecamatan Belo Kabupaten Bima Minta Pemerintah Daerah (pemda) Bima mencarikan solusi. Pasalnya, banjir kerap menggenangi areal pertanian di empat desa meninggalkan kerugian materil yang tidak sedikit.

ilustrasi / foto:kompas.com

ilustrasi. foto:kompas.com

Ratusan hektar area persawahan setiap tahunnya menjadi korban banjir yang melanda pada awal musim penghujan. Para petani pun terpaksa harus menelan kerugian yang tidak sedikit. Jutaan rupiah harus melayang akibat luapan air yang menggenangi sawah mereka pada saat bibit tanaman baru disemai.

Bukan hanya petani, sejumlah kawasan pemukiman warga juga tidak luput dari terjangan dan genangan banjir. Seperti yang terjadi pekan lalu, saat aliran sungai  di Desa Cenggu, Runggu sampai sungai Padolo meluap.

Pada hari Selasa (25/12/2012) kemarin pun sepuluh RT di Desa Cenggu, dari Rt 04 sampai Rt 13 terendam genangan air bercampur lumpur  sehingga warga tidak dapat beraktifitas hingga empat jam lamanya.

“Ini terjadi hampir setiap tahun dan selama ini tidak pernah ada solusi dari Pemda Bima, padahal sangat urgen karena berhubungan dengan mata pencaharian warga yang kebayakan adalah sebagai petani,” keluh salah seorang warga Cenggu, A. Hamid yang kembali menjadi korban banjir hari Selasa.

A. Hamid mengungkapkan, sawah merupakan tumpuan hidup mayoritas warga di kecamatannya. Bila ini terus dibiarkan warga sangat menderita. Ia dan masyarakat lainnya meminta Pemda Bima segera turun tangan dalam menormalisasi aliran sungai sekitar desanya. Karena dari pengamatannya, akibat pendangkalan yang terjadi sehingga setiap musim penghujan tiba air sungai akan cepat meluap.

Sementara itu Camat Belo M Chandra Kusumah M.AP mengakui akibat hujan yang turun setiap hari hampir semua desa di wilayahnya terkena banjir karena berada di satu jalur alur sungai. Masing-masing desa tersebut tergenang air di areal persawahan dan pemukiman. Bahkan di Desa Runggu, berdasarkan laporan dari aparatnya, sebuah tanggul diketahui jebol.

 “Memang wilayah di Kecamatan Belo, terpaksa menjadi langganan banjir karena sungai semain dangkal dan sempit,” terangnya. Sementara curah hujan semakin besar dan intensitasnya cukup tinggi sehingga sungai tak mampu lagi menampung debit air. Untuk itu, solusinya jangka panjang, Pemda akan melakukan normalisasi sungai. Sungai sepanjang desa akan dikeruk dan dilebarkan mulai dari Sungai Padolo hingga ke hulu di Desa Ncera.

Tambahnya, normalisasi ini membutuhkan dana yang besar. Pemda, katanya, akan mengupayakan dana untuk tahun 2013-2014 dari pusat. Dana ini untuk normalisasi sungai di tiga kecamatan termasuk Kecamatan Belo.

Terkait kerugian para petani akibat banjir, diungkapkannya pihak Kecamatan bersama Dinas Pertanian, Hultikultura dan Tanaman Pangan akan turun ke lapangan untuk mendata kerugian. Jika ada padi petani yang rusak, pihaknya melalui Dinas Pertanian, Holtikultura dan Tanaman Pangan akan memberi ganti rugi. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *