Bahasa Ibu, Bahasa Andalan Masyarakat Tarlawi

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pada dasarnya, bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seorang sejak kecil yang menjadi dasar pemahamannya secara alamiah. Seseorang yang lahir di daerah manapun, maka tentu bahasa ibunya yang diperkenalkan pertama kali.

Anak-anak Desa Tarlawi saat membantu persiapan kemah MJC di So Diwu Dinah. Foto: BIN

Anak-anak Desa Tarlawi saat membantu persiapan kemah MJC di So Diwu Dinah. Foto: BIN

Demikian pula dengan masyarakat Desa Tarlawi Kecamatan Wawo. Sejak dulu hingga kini, bahasa yang digunakan sehari hari yakni Bahasa Ibu atau bahasa Tarlawi.

Saat rombongan Mbojo Journalis Club (MJC) Bima menggelar Kemah Jurnalis di Desa Tarlawi, terdengar percakapan warga setempat yang tak biasa. Kendati dalam percakapannya menggunakan beberapa kata bahasa Bima, namun tetap saja sulit dimengerti.

Di Desa yang jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 380 orang itu sehari-harinya saat berada di daerah mereka menggunakan bahasa Tarlawi. Bahasa itu seolah sudah melekat dan susah untuk tidak digunakan. Kendati berada di daerah lain pun, jika bertemu dengan orang Tarlawi, maka akan menggunakan bahasa yang dimaksud.

Menurut Kepala Desa Tarlawi, H. Mukhtar, bahasa mereka merupakan bahasa yang digunakan turun temurun. Meski tidak ada bukti tertulis tentang sejarahnya, atau bukti tulisan abzad nya, namun sejarah dari generasi ke generasi lah yang mengharuskan mereka untuk memakai bahasa tersebut. “Menurut cerita nenek moyang kami, sejarah bahasa kami juga tertulis dalam buku sejarah Bima atau yang biasa di kenal Buku Bo,” ujarnya.

Ia mengaku, bahasa Tarlawi tetap akan digunakan sampai kapanpun. Meski jaman sudah modern, namun bahasa sejarah itu tetap akan dipertahankan dari generasi ke generasi. Dan masyarakat sekarang pun tetap merasa pentingnya bahasa ibu digunakan dalam komunikasi sehari-hari. “Tugas kami dan generasi mendatang yang akan memeprtahankan bahasa ini sebagai bahasa kebanggan Tarlawi,” tegasnya.

Ditanya komunikasi di tempat pendidikan, ia mengaku karena di Desa Tarlawi ada dua sekolah yakni SDN dan SMP, guru-guru yang mengajar juga tidak dipaksakan untuk belajar dan menyampaikan bahasa tersebut. Tetap memperkenalkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kendati disaat senggang, bagi guru yang berasal dari Desa setempat, tetap menggunakan bahasa Tarlawi.

*BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *