oleh

Edy Reses di Food Corner, Pedagang: Kami Sengsara Jualan di Sini

Kota Bima, Kahaba.- Anggota DPRD Kota Bima Edy Ikhwansyah menggelar reses di Food Corner Lapangan Pahlawan Raba, Kamis pagi (18/3). Kegiatan dikemas sederhana tersebut disambut antusias para pedagang setempat.

Edy Reses di Food Corner, Pedagang: Kami Sengsara Jualan di Sini
Anggota DPRD Kota Bima Edy Ikhwansyah saat reses di Food Corner Lapangan Pahlawan Raba. Foto: Bin

Edy menjelaskan, pada reses kali ini dirinya sengaja memilih hari pertama di Food Corner Lapangan Pahlawan Raba. Guna menyerap aspirasi para pedagang yang baru menempati fasilitas dibuat pemerintah tersebut.

“Reses saya gelar sendiri mulai tanggal 18 – 23 Maret 2021,” katanya.

Duta PPP itu mengaku, kegiatan ini bertujuan untuk menyerap aspirasi langsung para pedagang terkait kondisi lokasi baru tersebut. Untuk itu ia meminta agar para pedagang menyampaikan semua keluhan, agar bisa disampaikan ke pemerintah dan dicarikan solusinya. Supaya pedagang juga tetap terus berjualan dan diuntungkan.

“Ada yang baik disampaikan, yang tidak sesuai dengan keadaan juga disampaikan,” harapnya.

Di tempat yang sama, Lurah Rabadompu Barat Budi Fahriansyah yang sempat hadir mendampingi agenda reses juga berharap kepada pedagang agar mengungkapkan yang benar-benar dibutuhkan. Agar aktivitas dagang ini bisa berjalan baik dan pedagang diuntungkan.

“Semua aspirasi ini Insya Allah akan diperjuangkan agar oleh wakil rakyat kita,” terangnya.

Saat momen penyampaian aspirasi, koordinator pedagang Syafruddin mengungkapkan, kondisi dagang di Food Corner ini telah merugikan mereka. Karena selama 5 pekan berjualan di tempat ini, bukannya untung, tapi malah rugi.

“Kami sengsara jualan di sini,” ungkapnya diamini para pedagang lain.

Kenapa sengsara sambung Syafruddin, karena setiap hari jualan para pedagang tidak laku. Dalam sehari, untung tidak sampai Rp 50 ribu. Padaha sebelumnya, saat berdagang di depan RSUD Bima, mereka bisa dapat untung di atas Rp 200 ribu.

“Bagaimana kami tidak sengsara, setiap hari jualan kami hanya laku di bawah Rp 50 ribu,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, pihaknya juga mengeluhkan besarnya biaya sewa lapak sebesar Rp 500 sebulan. Apalagi di tengah kondisi jualan yang tidak laku. Belum lagi ditambah kondisi masih Covid-19.

“Saya selaku koordinator tidak mau bayar, karena mau bayar pakai apa? juga saya tidak mau keluar dari lapak ini. ” tegasnya.

Pedagang lain, Ariadin mengungkapkan bahwa pedagang di tempat ini dibatasi untuk berkreasi. Seperti dilarang untuk memajang jualan di luar. Karena jika di dalam, tidak diketahui masyarakat.

“Sementara jualan kami bisa laku hanya dari pengunjung rumah sakit,” tutur Ariadin.

Menjawab aspirasi pedagang, Edy berjanji akan menyampaikan keluhan ini ke pemerintah. Dengan harapan, pemerintah bisa mendengarkan semua dan bisa mencarikan solusinya.

“Semua keluhan ini akan saya sampaikan dan perjuangkan,” janji Edy.

*Kahaba-01

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Terbaru