Hukum & Kriminal

Ironi Perang Narkotika di Bima, Akademisi: Kasus Kasat Narkoba Tamparan Keras bagi Wajah Kepolisian

1
×

Ironi Perang Narkotika di Bima, Akademisi: Kasus Kasat Narkoba Tamparan Keras bagi Wajah Kepolisian

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Kasus dugaan keterlibatan Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota dalam perkara narkotika dan saat ini telah diamankan di Polda NTB, menuai reaksi keras dari kalangan akademisi. (Baca. Pengembangan Kasus Narkoba, Kasat Narkoba Polres Bima Kota Diamankan Polda NTB)

Akademisi Universitas Muhammadiyah Bima Syamsuddin. Foto: Ist

Akademisi Universitas Muhammadiyah Bima Syamsuddin, menilai peristiwa tersebut sebagai tamparan keras sekaligus ironi, di tengah upaya pemberantasan narkoba yang selama ini digaungkan aparat penegak hukum.

Syamsuddin sangat menyesalkan dan merasa sedih atas perilaku oknum aparat yang seharusnya menjadi teladan di tengah masyarakat, namun justru diduga terlibat dalam praktik yang merusak.

“Ini sangat memprihatinkan. Di saat masyarakat berharap aparat menjadi teladan, justru oknum polisi yang berperilaku demikian. Ini jelas merusak citra institusi kepolisian,” tegasnya, Kamis 5 Februari 2026.

Menurut pria yang menyandang gelar Doktor di bidang hukum itu, kasus ini harus dijadikan momentum evaluasi besar-besaran oleh Polda NTB dan Polres Bima Kota, tidak hanya di tingkat satuan tertentu, tetapi secara menyeluruh hingga ke jajaran terbawah, termasuk Polsek.

“Evaluasi ini tidak boleh setengah-setengah. Harus sungguh-sungguh dan total. Jangan berhenti di satu orang saja,” katanya.

Syamsuddin juga mengingatkan agar proses hukum yang berjalan tidak terkesan melindungi perbuatan yang mencederai kepercayaan publik. Ia menekankan pentingnya keterbukaan dan ketegasan dalam penanganan kasus tersebut.

“Bila perlu, kasus ini dijadikan pintu masuk untuk membuka jaringan yang lebih luas. Jangan tertutup. Bongkar peredaran narkotika yang melibatkan oknum aparat kepolisian, jika memang ada,” saran Doktor.

Dirinya bahkan menduga keterlibatan oknum lain dalam jaringan narkotika, sehingga aparat diminta mengungkap kasus ini seluas-luasnya, agar masyarakat kembali percaya bahwa perang melawan narkoba dilakukan secara adil dan tanpa pandang bulu.

“Civil society akan mengawal kasus ini. Jangan sampai penanganannya tertutup. Perkembangan kasus harus terbuka ke publik,” tegasnya lagi.

Lebih lanjut, Syamsuddin menyoroti ironi yang terjadi. Ia mengaku pernah berada dalam satu forum bersama oknum Kasat tersebut, yang kala itu menyampaikan materi dan imbauan tentang bahaya narkotika.

“Di depan publik bicara soal bahaya narkoba, tapi di belakang justru diduga melakukan perbuatan itu sendiri. Ini ironi yang sangat menyakitkan,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendesak Kapolda NTB untuk bertindak tegas tanpa kompromi, termasuk mencopot oknum yang terlibat dan memastikan proses hukum berjalan transparan.

“Kalau benar terbukti menyimpan atau menggunakan narkoba, jangan dilindungi. Tindakan tegas harus diberikan. Ini soal keadilan dan kepercayaan publik,” pungkasnya.

*Kahaba-01