Kabar Kota Bima

Keluarga Besar Penatoi Duduk Bersama, Bahas Soal Pemberdayaan

1305
×

Keluarga Besar Penatoi Duduk Bersama, Bahas Soal Pemberdayaan

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Di penghujung Ramadan 1443 H, keluarga besar Kelurahan Penatoi menggelar acara buka puasa bersama di Sampana Cafe, Minggu (1/5). Pada pertemuan tersebut juga dibahas serius masalah Penatoi kekinian dan prospeknya ke depan, di tengah keadaannya yang sudah dilekatkan dengan zona merah.

Keluarga Besar Penatoi Duduk Bersama, Bahas Soal Pemberdayaan - Kabar Harian Bima
H Sutarman saat menyampaikan sambutan pada acara buka puasa bersama warga Kelurahan Penatoi. Foto: Bin

Kegiatan yang digagas para pemuda Kelurahan Penatoi itu dihadiri H Sutarman, pengusaha Batu Bara asal Bima yang kini berdomisili di Bengkulu, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda kelurahan setempat.

Keluarga Besar Penatoi Duduk Bersama, Bahas Soal Pemberdayaan - Kabar Harian Bima

H Sutarman saat sambutan menginginkan Kelurahan Penatoi menjadi wilayah hebat dan melahirkan orang-orang hebat.

Sebagai langkah awal dari keinginannya yakni mendorong pemberdayaan yang berkelanjutan, dirinya inhin mengolah semua potensi yang ada di Kelurahan Penatoi.

“Di awali dengan budidaya ikan air tawar. Saat ini ada 3 kolam. Pengembangannya harus sampai 50 kolam, sehingga menjadi destinasi wisata budidaya,” inginnya.

Terhadap para pemuda, Sutarman mempertanyakan karang taruna kenapa tidak melihat sampah plastik yang. Menurut dia, sampah plastik luar biasa sangat banyak.

“Mestinya ini jadi duit. Saya yang akan beli mesin pencacah, jika karang taruna bisa mengolah sampah plastik tersebut,” katanya.

Pada sesi diakusi, tokoh masyarakat setempat A Rais menyentil soal zona merah yang telah sengaja dibentuk dan sangat memberi dampak buruk bagi warga dan wilayah.

Untuk itu, dirinya mengajak bersama-sama memikirkan hal ini dan melepaskan identitas buruk yang sudah terlanjur melekat.

“Masa depan masyarakat kita ini jauh lebih utama, mari kita semua ambil bagian. Kita juga harus lebih fokus pada zona merah, bukan hanya persoalan ekonomi dan pemberdayaan,” tegasnya.

Ketua RW 01 Kaharuddin dari diskusi ini menginginkan, agar generasi muda semuanya tanpa terkecuali harus dirangkul. Karena selama ini, persoalan zona merah selalu saja pemuda menjadi sasaran.

Keluarga Besar Penatoi Duduk Bersama, Bahas Soal Pemberdayaan - Kabar Harian Bima
Warga Kelurahan saat menghadiri acara buka puasa bersama. Foto: Bin

Di tempat yang sama, Rifaid mengutarakan harus ada persediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Juga harus ada keserasian antara usaha yang ingin diciptakan ini dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya.

Darussalam, pemuda Kelurahan Penatoi justru mengungkapkan fakta mencengangkan. Saat ini, Penatoi juga menjadi kelurahan dengan jumlah narapidana terbanyak di NTB yakni sebanyak 70 orang.

“Luar biasa prestasi kita warga Penatoi,” sentilnya.

Melihat keadaan ini sambungnya, masyarakat Penatoi sulit berubah karena problemnya tidak ada yang mau bersama dan banyak yang masa bodoh.

“Ini PR yang harus diselesaikan bersama oleh kita semua,” tuturnya.

Tokoh pemuda yang lain, Apriansyah berpandangan, warga Penatoi menyembah Tuhan yang sama, hanya berbeda idiologi dan pemahaman. Namun alangkah lebih bagusnya, mata rantai keterlibatan pemuda pada zona merah ini diperhatikan dan dihentikan.

“Salah satu yang harus segera dilakukan yakni pemberdayaan pemuda. Karena sejauh ini faktanya pemberdayaan pemuda yang sangat minim. Jika itu sudah mulai dilakukan, saya yakin zona merah ini akan hilang,” ujarnya.

Menjawab sejumlah penyampaian warga, H Sutarman menyimpulkan jika kondisi Penatoi bisa jauh tertinggal seperti ini penyebab utamanya adalah masalah ekonomi. Maka sangat tepat jika pemuda Penatoi melihat ini dengan cermat dan mulai bergerak untuk memulai memberdayakan diri dengan baik dan berkelanjutan.

“Saya secara pribadi akan senang hati membantu untuk mewujudkan itu,” tambahnya.

*Kahaba-01