Kuda Bima Menuju Kepunahan

Oleh: Abdul Mufakhir S.Psi,.M.Ak*

Abdul Mufakhir

Kuda yang dalam bahasa Bima disebut ‘jara’ merupakan komoditas andalan daerah Bima, bahkan kuda menjadi ikon daerah Bima dalam bentuk patung-patung yang dibangun di sudut-sudut wilayah Bima. Kuda Bima sudah dikenal oleh masyarakat luas di Nusantara, sejak jaman Majapahit kuda Bima telah diperjualbelikan antar pulau di nusantara.

Zaman dulu para saudagar dari beberapa wilayah kerajaan sudah mengenal Bima dengan kuda-kudanya. Pada abad ke XII jaman Majapahit kuda Bima dibeli dan dijadikan kuda perang dan kuda pekerja. Bahkan pada zaman Kekhalifan Utsmany kuda Bima telah menjadi komoditas ekspor yang diperdagangkan sampai ke negeri Istanbul Turki, pusat Khalifahan Islam Ustmany.

Kuda Bima memiliki ciri khas tubuhnya yang kecil dengan ukuran tinggi kuda dewasa hanya 120 cm. Bila dibanding dengan kuda-kuda daerah lainnya, ukuran kuda Bima relatif lebih kecil namun memiliki kekuatan untuk dijadikan sebagai kuda pekerja maupun kuda tunggakan perang. Kuda Bima sudah dikenal dengan kuda yang kuat, tahan segala medan dan mudah dijinakkan. Sehingga dari zaman kerajaan sampai zaman kolonial, kuda Bima memiliki tempat tersediri di mata pencinta dan saudagar kuda.

Seiring berjalannya waktu, kuda Bima mulai tergurus oleh zaman. Populasi kuda dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang cukup signifikan. Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bima mencatat, tahun 2015 jumlah populasi kuda di Bima 5.464 ekor, sementara pada tahun 2018 populasinya tinggal 3.474 ekor. Berdasarkan data tersebut juga menunjukan populasi penyebaran kuda Bima paling banyak berada di wilayah Kecamatan Donggo, Bolo, Woha dan Wawo (Bima Dalam Angka-BPS Kabupaten Bima, 2018).

Eksistensi Keberadaan Kuda Bima

Masyarakat Bima dulu menggunakan kuda sebagai sarana trasnportasi, hewan peliharaan dan kuda pacuan. Sebagai sarana transportasi kuda dulu memegang peranan penting sebagai sarana angkutan baik manusia maupun hasil pertanian. Zaman dulu memiliki kuda sebagai sarana transportasi seperti benhur/dokar sama halnya sekarang memilki mobil mewah, yang merupakan simbol kemapanan suatu keluarga. Namun kini pemanfaatan kuda sebagai sarana trasnportasi mulai tergantikan dengan transportasi yang lebih modern seperti bus, pick up, motor tiga roda maupun motor ojek. Tergesernya peran kuda sebagai sarana transportasi mengakibatkan banyak pemilik kuda menjual kuda-kudanya.

Sebagai hewan piliharaan kuda, biasanya diternakkan liar di alam terbuka. Namun terkadang juga di kandangkan di bawah kolong rumah panggung atau halaman rumah. Seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup dimana rumah panggung sudah tergantikan dengan rumah permanen. Hal tersebut mengakibatkan peternakan kuda mulai ditinggalkan. Tersisa hanya peternak kuda untuk pemanfaatan kuda pacuan. Meski banyak menimbulkan kontroversi pacuan kuda justru mampu memperlambat berkurang populasi kuda Bima.

Kuda bima biasanya akan dikawinkan dengan kuda luar yang ukurannya lebih besar sehingga menghasilkan kuda pacuan yang postur tubuhnya lebih besar dan kencang larinya. Umumnya kuda Bima dikawinkan dengan kuda sandalwood dari Sumba yang posturnya bisa mencapi 127 cm atau kuda luar negeri seperti thoroughbred dari Inggris yang postur tubuhnya bisa mencapai 178 cm. Walaupun mengawinkan silang jenis kuda Bima dengan kuda luar mampu memperlambat laju pengurangan populasi kuda Bima, akan tetapi justru menimbukan polemik baru karena ciri khas kuda Bima mulai hilang akibat banyak kuda yang dikawinkan silang seperti ini.

Melestarikan Kuda Bima

Kuda Bima dari tahun ke tahun mulai berkurang, bukan tidak mungkin dengan laju berkurangnya yang cukup signifikan tiga atau lima tahun mendatang generasi Bima hanya melihat kuda Bima dalam cerita-cerita atau icon-icon patung yang dibangun pemerintah di taman kota. Bukan hal yang mustahil bila kuda Bima akan punah karena tidak lagi menemukan cara untuk bisa eksis di tengah modernitas zaman. Jangan sampai nasib kuda Bima akan hilang seperti halnya bawang jenis ‘kala keta’ yang tergantikan oleh bibit bawang luar daerah, sehingga sekarang sudah jarang kita temui lagi keberdaaanya.

Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antar Sensus (sutas) NTB Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat yang dipublikasikan tahun 2019, di Kabupaten Bima sendiri rumah tangga usaha peternakan yang menjadikan kuda sebagai usaha utamanya yakni mengembangkanbiakan kuda atau memproduksi susu kuda, terdapat  85 rumah tangga. Sementara yang memilihara kuda sendiri 569 rumah tangga. Minat untuk memilihara kuda sebagai hewan peliharaan semakin berkurang dari tahun ketahun.

Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat pada tahun 2010 populasi kuda di Nusa Tenggara Barat terdapat 77,837 ekor, sementara tahun 2015 adalah 62.451 ekor dan tahun 2017 populasi ternak kuda hanya tersisa 48.846 ekor. Demikian pula populasi spesies kuda Bima dari tahun ke tahun semakin menurun, karena tidak menemukan cara untuk bisa tetap eksis. Padahal apabila kita melihat Bima maka mindset yang terbangun hanya tiga produk unggulannya; susu kuda liar, madu Bima dan bawang Bima.

Pengembangan-pengembangan terhadap produk unggulan kuda Bima, masih sangat minim. Produk susu kuda masih dalam bentuk kemasan botolan yang langsung dikemas dari sisa air mineral yang sangat gampang basi. Sementara produk ber-merk susu kuda Bima masih sangat minim. Lalu pengembangan produk menjadi produk lain seperti susu bubuk kuda yang lebih tahan lama, atau produk permen susu kuda belum ada produksinya sampai saat ini. Padahal potensi pangsa pasar susu kuda Bima sangat besar, karena khasiat susu kuda ini cukup tinggi untuk pengobatan.

Guna menjaga eksistensi keberdaaan kuda-kuda Bima, maka perlu adanya pengembangan oleh pemerintah daerah sendiri. Misalnya dengan agenda rutin pemerintah mengadakan festival kuda, perlombaan pacuan kuda yang terkoordinasi dengan baik atau pengembangan produk hasil susu kuda liar Bima. Saat ini kebanyakan kuda Bima diternakkan untuk kebutuhan susu kuda dan pacuan kuda. Rumah tangga yang melakukan pengembangbiakan kuda untuk kuda pacuan jumlahnya lebih banyak, ketimbang kuda untuk pemanfaatan produksi susu kudu liar.

Pacuan kuda memiliki akar sejarah dalam tradisi masyarakat Bima, meski masih banyak kontroversi karena menggunakan joki anak di bawah umur. Pemerintah sudah seharusnya membuat regulasi agar balapan kuda lebih sefety sehingga pacuan kuda tersebut menjadi tontonan menarik dan jauh dari kesan horror. Adanya kegiatan-kegiatan tersebut tentunya dapat mengahambat laju berkurangnya kuda Bima, agar nantinya kuda Bima tidak menjadi dongeng sejarah buat generasi berikutnya.

*Penulis Adalah Pemerhati Sosial

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *