Karyawan Itu Kerap Tidur Dalam Mobil Box

Kota Bima, Kahaba.- Diperlakukan buruk, demikian kiranya yang dirasakan oleh ketiga orang karyawan pabrik roti di Kelurahan Rabadompu. Mulai tidak digaji dengan layak, jam kerja yang tidak manusiawi, hingga jatah makan yang dibatasi harus mereka lakoni dalam empat bulan terakhir. Tak hanya itu, Domi (24) menuturkan mereka tinggal di tempat yang tidak layak.

Ilustrasi

Ilustrasi

Di tempat penampungan sementaranya Domi, pekerja asal Pulau Sumba itu menuturkan, lingkungan tempat ia dan kedua temannya tinggali dulu sebelum melarikan diri masih jauh dari kata layak.

Bagaimana tidak, ia, Ompu Tamu (18) dan Yanto (18) selain harus membanting tulang tanpa mendapatkan imbalan sepadan (Baca: Karyawan Pabrik Roti Asal Sumba ‘Diperbudak’), mereka harus tidur di tempat tidur yang sempit pula.

“Karena sempit, masing-masing dari kami harus rela tidur di sofa, atau di rumah kosong dekat pabrik,” tutur Domi kepada Kahaba pada Kamis (6/6/2013) kemarin.

Bahkan lanjutnya lagi, beberapa kali ia dan juga teman-temannya terpaksa harus merelakan diri beristirahat di dalam mobil box pengantar roti. Aktivitas ini dilakukannya hari demi hari dalam empat bulan terakhir terhitung para pemuda Sumba ini meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah keluarga.

Domi juga mengaku, masalah yang dialaminya sampai sudah dilaporkan ke Pemerintah Kota (pemkot) Bima melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disosnaker) pada Rabu (5/6) mereka menjanjikan akan segera menanganinya.” Kita sudah lapor tetapi kata pegawai disosnaker akan ditanggapi, itu saja pak katanya,” ungkapnya.

Atas tindakan diluar rasa keadilan ini, warga setempat mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar pabrik hanya bisa membantu dengan memberikan makanan apabila mereka membutuhkannya.  Seperti yang dituturkan oleh pemilik rumah, Samsiah mengaku sudah sering mendengar keluhan ketiga karyawan roti tersebut. Hingga mereka memutuskan untuk keluar dari pabrik, pasangan suami istri itulah yang membatu menampung mereka untuk sementara.

Kepala Disosnaker Kota Bima, Drs. H. Muhidin yang dilaporkan langsung merespon dengan mendatangi rumah yang kini menjadi tempat pelarian ketiga karyawan, bahkan beliau membawa serta nasi bungkus. Setelah mendengar keluhan ketiga karyawan tersebut berjanji segera menindaklanjutinya dengan memanggil manajemen perusahaan guna dimintai klarifikasi dan pertanggung jawaban. “Kita akan panggil perusahaan roti itu biar jelas semua,” ujarnya.

Manajer Pabrik Roti-KU, Gebi, membantah semua tudingan tersebut. Walaupun sempat memberikan sedikit peryataan, Gebi menyarankan untuk langsung bertemu dengan bos besar yang saat ini masih keluar daerah.”Tunggu bos saya saja, nanti hari Sabtu dia pulang,” ujarnya saat ditemui di pabriknya. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *