Zubaer: Dari pada Wabup Mundur, Saya saja yang Dipecat

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kasus foto spanduk yang diduga melecehkan Wakil Bupati Bima, Drs. H. Syafruddin H. M. Nur, MM ditanggapi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bima, Drs. Zubaer HAR M.Si. Saat menggelar konfrensi pers di Bandara Sabtu, 9/11/13, Zubaer tak ingin berpolemik dan siap dipecat dari pada Wakil Bupati mengundurkan diri.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bima, Drs. Zubaer HAR, M.Si saat menggelar konfrensi pers di Bandara Muhammad Salahudin Bima, Sabtu,  9 Noember 2013. Foto: BIN

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bima, Drs. Zubaer HAR, M.Si saat menggelar konfrensi pers di Bandara Muhammad Salahudin Bima, Sabtu, 9 Noember 2013. Foto: BIN

Kata Zubaer, foto dia dan Bupati Bima yang ada di spanduk saat acara sosialisasi di Paruga Nae Kecamatan Bolo beberapa waktu lalu tak diketahui persis. Dirinya pun tak ingin berpolemik dalam kasus ini, apalagi perang opini di media. Tapi, sisi positifnya, lewat media juga bisa diklarifikasi persoalan ini. “Saya rasa hanya orang yang gila dan bodoh saja yang mau merusak citra dirinya. Dan tidak mungkin Saya melakukan itu,” jelasnya.

Menurut Zubaer, wajar saja kalau Wakil Bupati marah dan emosi terkait foto tersebut. Tapi, jangan di lihat dari satu sisi itu saja. “Tidak mungkin saya secara pribadi mencederai citra pemerintah. Kalau pun ini ada peranan pihak ketiga, Saya tak ingin su’udjon ke arah itu,” ketusnya.

Pada intinya, jajaran Dinas Dikpora tak mengetahui tentang hal tersebut. “Memang, saat kegiatan saya ada di situ. Dan saya tak melihat ada spanduk yang menjadi biang kesalahpahaman ini,” ujarnya.

Dia tahu adanya spanduk itu, ketika H. Ali, Kabid KPMP yang akhirnya di mutasi datang ke rumahnya. “Dari cerita H. Ali memang benar ada spanduk itu. Saya bilang, kalau spanduk benar ada, itu adalah kesalahan,” ceritanya.

Saat itu, dirinya langsung menghubungi Wakil Bupati untuk meluruskan persoalan dan memohon maaf atas kejadian tersebut. Dia pun menghubungi Pak Bupati lewat Ajudannya, Armin. Sedangkan H. Ali selaku penanggungjawab kegiatan langsung diarahkan bertemu Wakil Bupati untuk mengklarifikasi dan meminta maaf. “Saat 1 Muharram, Saya dan H. Ali sudah menghadap Wakil Bupati dan meminta maaf secara langsung. Langkah saya ini patut diapresiasi,” tukas Zubaer.

Adanya tanggapan Wakil Bupati yang menginginkan dia dicopot, bagi Zubaer, lebih baik dirinya yang dipecat dari pada Wakil Bupati mengundurkan diri. “Saya tidak ingin dalam masalah ini terjadi disharmonisasi antara Bupati dan Wakil Bupati,” terangnya.

Sementara itu, ia pun berhak untuk menjaga citra pribadi. Dan ketika  pihaknya dianggap melakukan pelanggaran, sebagai PNS tentu ada tahapan sanksi yang diberikan. “Saya kira kedua pimpinan di Pemkab Bima itu adalah orang yang bijak. Dan bila harus dipecat sebagai kepala Dinas, no problem bagi saya. Dan saya tidak akan melakukan apa-apa. Sebab ini bukan jabatan keluarga atau warisan,” katanya.

Ia mengaku, saat bertemu Pak Wakil, sebenarnya tak ada masalah. “Komunikasi kami baik-baik saja. Tapi, di media statemen beliau seolah emosional. Sebenarnya, saya yang harus marah. Karena seragam di foto itu adalah seragam Kepala Desa. Masa Kepala Dinas dibandingkan dengan Kepala Desa. Dan sebenarnya itu pelecehan bagi saya,” tuturnya lagi.

Pria berbadan tinggi itu melanjutkan, sebenarnya pemasangan spanduk selama ini tidak pernah ada masalah. “Karena staf yang tak tahu aturan yang mengerjakan, sehingga terlihat fatal seperti ini. Atau mungkin ada pihak ketiga yang sengaja menciptakan kondisi ini. Yang jelas, Saya tidak gila dan bodoh dan tak mungkin anak buah saya juga melakukan hal ini,” sorotnya.

Kata dia, jika anak buah berbuat kesalahan, semestinya harus dilakukan pembinaan terlebih dahulu. Dan terkait mutasi tiga pegawai Dinas Dikpora imbas masalah ini, Zubaer mengaku bukan ranahnya menanggapi hal tersebut. “Agar jelas, silahkan ke Pak Bupati kaitan masalah mutasi,” pungkasnya.

Terakhir, mengenai permintaan Wabup agar dia dicopot dari jabatannya, Zubair menanggapi mungkin itu adalah hal yang didramatisir atau dipolitisir oleh beberapa pihak tertentu. “Kalau pun itu pernyataaan langsung Pak Wakil, lebih baik saya yang dipecat dari pada Wabup yang mundur,” tegas Zubaer.

Dia menambahkan, dalam masalah ini, akan menghadapi sebagai lelaki yang bertanggungjawab. “I’am Man and I’am Gentleman. dan saya adalah pejantan tangguh,” tambahnya.

*BIN | DEDY

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *