Edi Muhlis, Aktivis dan Jurnalis yang Jadi Wakil Rakyat

Kabupaten Bima, Kahaba.- Edy Muhlis S.sos merupakan salah satu dari 45 orang Wakil Rakyat Kabupaten Bima periode 2014-2019 yang resmi dilantik, Kamis (25/9) di kantor DPRD setempat. Pria yang pernah menjadi aktivis dan jurnalis itu pun mengaku siap menunjukan marwahnya menjadi seorang representasi rakyat.

Edy Muhlis, S.Sos berpose bersama istri dan dua anaknya usai pelantikan. Foto: Bin

Edy Muhlis, S.Sos berpose bersama istri dan dua anaknya usai pelantikan. Foto: Bin

Edy sewaktu muda memiliki banyak kiprah dan berkutat dengan sejumlah organisasi, yang membentuk karakternya. Di bangku kuliah STISIP Mbojo Bima, semangat menjadi agen perubahan membuncah dan terus diasahnya. Hingga beberapa posisi strategis pernah di nakhodainya.

Seperti menjadi Ketua BEM STISIP Mbojo – Bima Tahun 2000, Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Bima tahun 2001, dan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selama tiga periode sejak tahun 2002 hingga 2004, dan pernah eksis dalam Barisan Muda (BM) Gerakan Anti Korupsi.

Langkah mulusnya menjadi wakil rakya seolah tak bisa dipisahkan dari rekam jejaknya selama menjadi aktivis. Tahun 1999, pria yang juga pernah menjadi salah satu Presidium Kaukus Muda Komite Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (KP3S) itu bergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Bima Indonesia (FKMBI) dan melakukan berbagai gerakan menuntut Pemerintah Kabupaten Bima pro terhadap nasib kaum petani dan buruh.

Kemudian memimpin gerakan gabungan seluruh Perguruan Tinggi (PT) Bima, Jaringan Mahasiswa (JM)-NTB menuntut mafia CPNSD tahun 2003, sehingga banyak pejabat yang berhasil dijebloskan ke Hotel Prodeo. “Kami dulu militan saat menggelar aksi. Pantang mundur karena yang kami perjuangkan itu mengandung kebenaran,” katanya.

Bahkan pada Tahun 2002 silam, dirinya pernah membangun gerakan secara massal bersama rakyat Kecamatan Woha dan Bolo, mendesak Pemerintah Kabupaten Bima meningkatkan harga garam petani. “Saat itu aksi kami lakukan dengan memblokir jalan raya selama dua hari di Jalan Soekarno-Hatta,” jelas suami Lili Suryani itu.

Setelah kuliah, pria yang lahir di Desa Laju Kabupaten Bima Tahun 1976 itu kemudian Edy lantas membangun media cetak regional NTB dan NTT yang diberi nama Rinjani-Tambora (Rintam) Post. Saat berkelut di media, Edy bahkan menjabat sebagai Ketua DPW Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) NTB hingga kini.

Kini, ia pun memantapkan hatinya untuk terus memperjuangkan aspirasi rakyat sebagai anggota Dewan. Menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan anggota DPRD. Karena menurutnya, selama ini rakyat sering dimarginalkan.

“Banyak hal yang akan coba kami dibenahi nanti, termasuk masalah korupsi yang selalu merugikan rakyat,” tambah ayah dari Azizatun Mulyani dan Abidzar Al-gifary Ranggaberani itu.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *