Tumor Ganas Bersarang di Perut Karmani

Kabupaten Bima, Kahaba.- Sudah hampir enam Tahun Karmani menanggung deritanya. Kian hari, tumor yang bersarang diperutnya kian membesar, melebihi perut ibu yang hamil sembilan bulan. Hidupnya yang miskin, membuat orangtua dan keluarganya hanya mampu menunggu mukzizat yang dialamatkan kepada siapa saja yang mengasihinya.

Karmani didampingi keluarganya. Foto: Bin

Karmani didampingi keluarganya. Foto: Bin

Gadis berusia 21 Tahun itu terlihat melempar senyum saat dikunjungi sembilan orang jurnalis, di Desa Tambe, RT 05 RW O3, Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Ia terbaring diatas tikar dengan rambut terurai. Mengenakan sarung, menutup perutnya yang sudah berurat besar.

Karmani terlihat seperti sesak, perutnya seakan menganggu pernapasannya. Ditemani saudara dan keluarga, ia mempersilahkan pekerja media duduk di rumah orangtuanya yang kecil dan beratap seng. Rumah yang belum diplester dan hanya ada tiga kamar. Satu kamar tidur, satu ruang tamu dan satu kamar untuk dapur.

Saat ditanya, anak terakhir dari enam bersaudara itu pun mulai bercerita tentang deritanya. Sejak ia duduk dibangku SMA, perutnya mulai membengkak. Sedikit demi sedikit kemudian semakin membesar. Karena semakin parah, kelas dua SMA ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Tentu, ia merasa malu dengan kondisinya.

Karmani dengan kondisi perut yang semakin membesar. Foto: Bin

Karmani dengan kondisi perut yang semakin membesar. Foto: Bin

“Perut ini tidak sakit, seperti biasa saja, tapi semakin membesar. Saya putuskan untuk tidak ikut Ujian Sekolah kenaikan kelas tiga dan memilih untuk berobat,” ujar gadis yang pernah duduk dibangku MAN 3 Sila itu.

Untuk kesembuhan, ia beberapa kali diperiksa ke dokter Bima. Hasil medis, ia diberitahu tumor telah bersarang diperutnya, dan disarankan untuk berobat ke Mataram. Lantaran hidup susah dan orang tua hanya bekerja sebagai buruh tani, Karmani hanya diupayakan untuk obat tradisional.

Karena tak kunjung sembuh, upaya ke Mataram pun akhirnya diputuskan, kendati orangtuanya harus utang kiri kanan. “Di Mataram, kita berangkat pakai uang utang sebanyak Rp 5 juta. Hasilnya, dokter bilang perut saya besar karena Kista dan disuruh operasi ke Bali,” kata putri dari Ramlah dan Dao M. Ali itu.

Mendengar kalimat operasi, terbayang biaya yang harus dikumpulkan tidak sedikit. Untuk makan sehari – hari saja susah, apalagi menyiapkan uang puluhan juta untuk mengakhiri deritanya. Keputusan saat itu, Karmani dibawa pulang dan kembali diusahakan berobat dengan cara tradisional.

Sepulang dari Mataram, tak banyak yang bisa dilakukan orang tuanya. Tak ada obat yang diminum untuk menghentikan perutnya yang makin membesar, hanya berbaring lesu di gubuk deritanya.

Dapur rumah orang tua Karmani. Foto: Bin

Dapur rumah orang tua Karmani. Foto: Bin

Soal perhatian pemerintah, Karmani mengaku sudah pernah lapor ke Kepala Desa Tambe. Namun tak ada perhatian untuk kesembuhannya. Bahkan Kepala Desa setempat tidak pernah datang memperhatikan kondisinya.

“Dulu saat kampanye saya pernah dijenguk Tuang Guru Bajang, dan diberi bantuan uang senilai Rp 5 juta. Setelah itu, seingat kami tidak ada,” tuturnya.

Saudara Karmani, Ibrahim yang juga saat itu mendampinginya berharap pemerintah bisa membantu kesembuhan adiknya. Ia mengaku sudah tidak tahu cara apalagi yang harus dilakukan. “Besar harapan kami, uluran tangan dari pemerintah membantu biaya operasi Karmani,” pintanya.

Gadis itu berharap sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa, bergaul dengan teman-teman sesama gadisnya yang lain. Bahkan ia bercita – cita untuk melanjutkan sekolahnya yang sempat putus.

Kini ia hanya menunggu nasib, dibawah teriknya atap seng rumah yang dibangun oleh pemerintah. Keluarganya pun berharap ada mukzizat yang diturunkan dari tangan – tangan ikhlas membantu kesembuhannya.

Rumah orang tua Karmani. Foto: Bin

Rumah orang tua Karmani. Foto: Bin

Sementar itu, Kepala Desa Tambe, Nurdin Azrun yang ditemui mengaku sudah mengetahui kodnisi warganya, namun belum sempat melihat kondisinya. “Katanya dulu di Mataram perutnya pernah disedot, keluar air banyak,” ujarnya.

Ditanya bantuan dari pemerintah, kata dia, dulu pernah dibantu uang oleh mantan Bupati Bima Almarhum Ferry Zulkarnain, ST. Hanya saja belum pernah diberikan bantuan untuk pemulihan. “Kita coba upayakan agar pemerintah bantu kesembuhannya,” tambah Nurdin.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *