Lutfi Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan

Kota Bima, Kahaba.- Menurut Anggota DPR Republik Indonesia, Muhammad Lutfi, SE, salah satu upaya mencegah berkembangnya paham radikalisme di masyarakat yakni penguatan empat pilar kebangsaan. Cara itu dinilai sangat penting sekali, terutama di Bima yang penuh dengan konflik sosial sehingga perlu pencerahan untuk generasi muda dan mahasiswa.

Muhammad Lutfi, SE saat memberikan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Foto: Erde

Muhammad Lutfi, SE saat memberikan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Foto: Erde

Pernyataan duta Partai Golkar itu bukan tanpa sebab, pasalnya kian hari kian berkembang paham radikalisme dan mengancam keutuhan negara. Generasi muda pun menjadi target empuk untuk penanaman paham membahayakan tersebut. Terlebih di Bima, telah lama menjadi sorotan nasional karena selalu dikaitkan aksi terorisme dan paham radikal.

“Penguatan empat pilar kebangsaan menjadi benteng guna mencegah penanam paham yang sangat berbahaya bagi negara. Baik radikalisme dalam kelompok sosial maupun radikalisme dalam kelompok keagamaan,” jelasnya saat menyampaikan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Hotel La Ila, Kota Bima.

Politisi Senayan kelahiran Bima ini memandang, generasi muda dan mahasiswa perlu dilibatkan dalam sosialisasi, karena merupakan tonggak mata rantai generasi penerus bagi bangsa Indonesia. Artinya bukan hanya sifatnya sesaat, tetapi mereka mengisi di ranah-ranah kehidupan untuk kedepannya.

“Radikalisme berkembang di Bima, saya yakin hanya euforia dan tidak bisa bertahan lama. Karena masyarakat Indonesia sangat menghargai kemajemukan, pluralitas dan menganggap bahwa perlu adanya negara kesatuan,” jelas Anggota Dewan dua periode ini.

Artinya kata Lutfi, negara Indonesia tidak bisa tercabik-cabik hanya karena gerakan-gerakan kelompok yang bersifat sporadis dengan semangat keagamaan atau sosial yang sifatnya hanya sementara.

“Yang perlu ditumbuhkan oleh generasi muda adalah, semangat nasionalisme, rasa bangga bahwa sebagai anak bangsa Indonesia yang dilahirkan di Indonesia, dan punya cita-cita untuk membesarkan bangsanya,” tandas Mantan Aktivis 1988 ini.

Sosialisasi empat pilar lanjutnya, menyangkut UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Merupakan tugas konstitusional DPR RI yang dilakukan enam kali dalam setahun. Bisa dilakukan pada masa reses dan di luar masa reses.

“Yang saya lakukan hari ini adalah di luar reses. Kebetulan kita pilih organisasi kemahasiswaan PMII Bima karena dirasa mampu mensosialisasikan empat pilar kebangsaan,” tuturnya.

Namun Lutfi menegaskan, sosialisasi empat pilar bukan hanya tugas DPR atau MPR tapi juga merupakan tugas dari pemerintah. Sehingga bisa berjalan secara massif, baik ditingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga tingkat nasional.

“Saya harapkan program ini bisa dijemput juga oleh daerah, baik Kota Bima, Kabupaten Bima atau bisa juga oleh Legislatif di daerah dan Propinsi NTB,” ujar anggota Komisi VIII DPR RI itu.

Lutfi menambahkan, materi empat pilar kebangsaan sangat penting disingkronkan dengan persoalan-persoalan kehidupan kebangsaan. Baik itu menyangkut realitas sosial, ekonomi dan politik. Sehingga proses pencerahan masyarakat, tentang ideologi terhadap dirinya betul-betul dimaknain secara utuh agar tidak ada gesekan-gesekan sosial yang terjadi ditengah masyarakat.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. abdul muluk

    4 pilar kebangsaan merupakan dasar idiologi negara, itulah yang membuat negara ini kuat, kita disatukan dalam bingkai itu. Tidak salah para tokoh2 dulu meletakan 4 pilar kebangsaan menjadi idiologi bangsa indonesia, sehingga benteng itulah yang penjadi pemersatu ketika indonesia banyak perbedaan agama, budaya, ras bahkan soal perbedaan pandangan. Untuk menjaga kesabilan negara soal banyak kelompok yang coba mengoyak2 NKRI maka itu bukan semata2 bukan tanggung jawab pemerintah seutuhnya, melainkan semua komponen masyarak harus terlibat dalam menjaga pancasila , UU 45, bineka tunngal ika, dan NKRI sebagai idiologi negara, sekarang tantangan kita semakin berat, kelompok yang mengatsnamakan apapun yang kemudian mencoba merong-rong idiologi harus dilawan secara bersama2. Bukan berarti itu semua kita lemparkan kepada pemerintah seutuhnya. Idiologi negara sudah tidak ada yang perlu diperdebatkan melainkan diamalkan saja sesungguhnya isi dari itu semua itulah yang rasul gambarkan. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *