Dandim Ingatkan Bahaya Perang Asimetris

Kabupaten Bima, Kahaba.- Menurut Dandim 1608 Bima, Letkol (Arh) Edi Nugraha, saat ini generasi muda sudah tidak dihadapkan lagi dengan perang fisik, mengangkat senjata atau saling menguasai tekhnologi. Namun, kita sudah memasuki perang generasi keempat yakni bernama perang asimetris.

Dandim 1608 Bima, Letkol (Arh) Edi Nugraha (Jas Hitam)  Acara peringatan Harlah Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bima ke-81. Foto: Erde

Dandim 1608 Bima, Letkol (Arh) Edi Nugraha (Jas Hitam) Acara peringatan Harlah Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bima ke-81. Foto: Erde

Apa itu perang asimetris? Dandim pengganti Letkol Infanteri Tommy Ferry ini menjelaskan, dalam militer itu ada istilah perang generasi pertama, dimulai dari perang secara fisik, orang melawan orang dengan langsung berhadapan. Berlanjut pada perang generasi kedua, yakni perang menggunakan senjata. Sementara pada perang generasi ketiga, manusia sudah saling mengendalikan teknologi.

Nah menurut Lulusan Akmil terakhir era Presiden Soeharto ini, saat ini kita sudah masuk pada perang generasi keempat, yakni perang asimetris.

“Perang ini tidak seimbang, karena kita tidak menggunakan kekuatan senjata atau arsenal untuk melawan musuh. Akan tetapi menggunakan pihak ketiga yakni melalui media dan informasi,” jelas Dandim saat memberikan sambutan pada Harlah ke-81 GP Ansor di Aula STIT Sunan Giri Bima. (Baca. GP Ansor Peringati Harlah ke-81)

Bisa dilihat saat ini kata prajurit asal Jogja ini, bagaimana pengaruh informasi, media dan provokasi massa sangat luar biasa. Nah untuk itu, kita dan GP Ansor telah berkomitmen sebagai anak bangsa akan mengawal NKRI tetap utuh, tidak terpecah-pecah, tidak diombang-ambingkan oleh kondisi dan situasi seperti sekarang ini.

“Karena itu, marilah kita sama-sama menyaring atau menfilter pengaruh budaya, informasi dan provokasi yang sekarang berkembang agar tidak makin meluas. Nah ini peran kita semua, peran generasi muda. Kembali kepada kejernihan akal pikiran kita, untuk menerima informasi,” ingatnya.

Sebab lanjut, Dandim, sekarang begitu mudahnya kita mendapatkan informasi, yakni hanya dengan membuka handphone, komputer dan internet. Baik itu informasi yang poisitif maupun negatif.

“Kembali kepada diri kita, kejernihan hati dan pikiran kita agar tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi. Karena bahaya kehancuran perang generasi keempat ini sangat luar biasa. Dapat merusak seluruh sendi-sendi kehidupan kita,” akunya.

Sasaran utama yang dihancurkan perang asimetris kata Dandim, adalah generasi muda. Sebab generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang melanjutkan tongkat estafet bangsa ini kedepan. Generasi mudalah yang menentukan, apakah generasi kedepan akan lebih maju atau malah semakin lemah.

“Kita selama ini berusaha terus menyampaikan kepada seluruh anak bangsa agar dapat menangkal pengaruh yang dapat membawa keburukan bagi bangsa ini,” tandasnya.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *