Bila Jiwa Nasionalisme Luntur, Negara Lemah

Kota Bima, Kahaba.- Jiwa nasionalisme dan rasa cinta masyarakat terhadap tanah air menjadi kekuatan bagi negara sebagai modal pembangunan dan semangat memajukan bangsa. Namun bila jiwa nasionalisme masyarakat luntur, negara akan lemah dan tak berdaya.

Rapat Dengar Pendapat di Dodu. Foto: Ady

Rapat Dengar Pendapat di Dodu. Foto: Ady

Demikian disampaikan Anggota DRPD RI dari Fraksi Partai Golkar, H Muhammad Lutfi saat rapat dengar pendapat bersama masyarakat Kelurahan Kodo dan Kelurahan Dodu, Sabtu (4/6) sore. Kegiatan itu sekaligus dirangkaian dengan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, bertempat di Dodu.

Menurut Anggota Komisi VIII ini, jiwa nasionalisme sangat penting ditanamkan kepada generasi muda saat ini. Karena arus globalisasi maupun moderenisasi di Indonesia tak terbendung dan mulai menggerus kecintaan generasi terhadap negara.

Semua informasi dan gaya hidup barat kata dia, kini sangat mudah diakses dengan kecanggihan tekhnologi. Dampaknya, adat ketimuran masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai moral juga perlahan luntur. Sehingga kini, kasus kekerasan, kasus asusila, kasus korupsi hingga kasus seperatis kian meningkat.

Karena itu lanjutnya, rasa nasionalisme harus terus ditanamkan kepada masyarakat dan generasi muda kita agar mereka tidak kehilangan cita-cita dan arah masa depan. Salah satunya melalui sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan untuk memberikan pemahaman, nilai-nilai moral Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Dalam konteks kedaerahan Bima tuturnya, jiwa nasionalisme itu telah ditunjukan sejak dulu ketika Kesultanan Bima menyatakan bergabung dengan NKRI pada Tahun 1948. Hal itu tak lain sebagai wujud menjaga persatuan dan kesatuan bangsa karena merasa diikat oleh semangat yang sama yakni Pancasila.

Sejarah tersebut menurutnya, harus dimaknai oleh generasi muda untuk terus belajar mengembangkan potensi diri demi memajukan daerah. Bukan sebaliknya, menyuburkan kekerasan dan saling membenci sehingga malah merugikan daerah.

“Bima tidak punya budaya kekerasan, sehingga keliru kalau mengatakan itu tradisi. Kekerasan itu hasil pengaruh budaya luar karena kita menjunjung tinggi falsafah hidup ‘Maja Labo Dahu’ yang kini masih terpatri,” terangnya.

Diakhir kegiatan, sejumlah masyarakat dua kelurahan tersebut menyampaikan usul saran dan masukan terkait dengan 4 Pilar Kebangsaan. Masyarakat mengakui, saat ini memang telah terjadi pergeseran nilai moral generasi karena pengaruh moderenisasi dan tekhnologi.

“Kami mengusulkan, materi tentang P4 dan Pengamalan Pancasila harus kembali dimasukan dalam kurikulum pendidikan untuk menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini kepada para pelajar,” usul salah seorang warga, Yasin Ishaka.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *