Rupanya, di Monggonao 9 Warga Masih Hidup di Tenda

Kota Bima, Kahaba.- Warga yang masih hidup di tenda pasca banjir hebat menerjang warga Kota Bima, tidak saja di Kelurahan Penaraga. Rupanya, di Kelurahan Monggonao Kecamatan Mpunda justeru lebih banyak. (Baca. Pasca Banjir, 4 Kepala Keluarga ini Hidup di Tenda)

Suhartati bersama anak dan orang tuanya hidup di tenda pasca banjir. Foto: Bin

Di kelurahan tersebut, 9 warga masih memilih untuk hidup diatas tenda. Setelah rumah yang mereka tempati hanyut dibawa banjir. Tak ada apa-apa yang bisa diselamatkan. Arus banjir yang cukup deras telah menelan semuanya.

Kondisinya tentu memantik rasa iba. Bagaimana tidak, tenda berukuran kecil dibangun seadanya. Yang penting ada tempat untuk berteduh disaat terik dan kehujanan.

Seperti yang dialami oleh Suhartati (30) warga RT 1 RW 1 Kelurahan Monggonao. Saat ini, itu hidup dibawah tenda dengan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Rumah panggungnya 9 tiang roboh dan hanyut dibawa banjir.

“Mau bagaimana lagi pak. Dimana kami harus tinggal, kalau tidak membangun tenda,” ujar perempuan yang sudah ditinggal mati suaminya dua tahun lalu itu, Kamis (23/3).

Kata dia, hidup dibawah tenda harus terus dijalani, meski siang disengat panas dan malam dibalut kedinginan. Sebab, tak ada pilihan lain yang harus dilakukan, selain bertahan dilahan tempat rumahnya berdiri.

Suhartati mengaku sudah pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Bima. Namun, dirinya berharap agar pemerintah bisa memperhatikan kondisi hidupnya sekarang bersama sejumlah warga lain yang masih bertahan di tenda.

“Kami di sini masih menanti janji pemerintah soal bantuan dana Rp 40 juta untuk rumah hanyut. Agar kami bisa kembali memiliki rumah,” katanya.

Perempuan yang juga masih hidup bersama orang tuanya yang sudah renta itu menambahkan, banjir di tempatnya setinggi 3 meter. Bencana saat itu telah merenggut semua isi rumah.

Hal yang sama juga menimpa oleh Yusuf, warga RT 03 Kelurahan Monggonao bersama anak-anaknya. Kini mereka sangat berharap realisasi bantuan dari pemerintah, agar bisa membangun kembali tempat tinggal yang sudah hanyut dibawa banjir.

Diakui Yusuf, rumahnya dan rumah anak – anaknya yang ada dalam satu lahan telah hanyut dibawa banjir. Untuk melanjutkan hidup, pihaknya terpaksa membangun tenda seadanya.

“Kami masih menanti janji pemerintah yang ingin membantu bangun rumah. Semoga saja bisa segera diwujudkan,” harapnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *