Suami Derita Stroke, Istri Jualan Nasi Bungkus Hidupi Keluarga

Kota Bima, Kahaba.- Ramlah (62), warga RT 09 RW 04 Kelurahan Penaraga Kota Bima, Jum’at (8/12) siang terlihat sedang sibuk menyiapkan nasi bungkus sambil mengurus Afriani (20) anak perempuannya yang sedang terbaring sakit di dalam kamar.

Ramlah saat berada di depan rumahnya di Kelurahan Penaraga. Foto: Ady

Anak kelimanya itu sudah 4 bulan menderita penyakit magh kronis. Menurut Ramlah, penyebab Afriani sakit karena program diet yang salah. Afriani menjaga pola makan karena tak ingin gemuk. Namun bukan tubuh ideal yang didapat, tetapi malah berujung sakit magh.

Afriani sudah berulang kali dibawa ke dokter bermodal Kartu Indonesia Sehat (KIS)). Lantaran tak ada perubahan, ia kini hanya berobat jalan di rumah. Setiap hari, ia pun diurus oleh Ramlah.

Di rumah kumuh berdinding kayu dan beralas tanah itu, Ramlah juga hidup bersama dua anak perempuannya yang lain serta suaminya, Jaitun (63). Kondisi suami tak kalah menyedihkan dibanding Afriani.

Jaitun menderita penyakit stroke sejak 4 tahun silam. Setiap hari sang suami hanya duduk di depan pintu rumah. Jika ada keperluan untuk buang air dan mandi, istrinya Ramlah-lah yang sibuk.

Usia yang tak lagi muda ditambah penyakit stroke mendera, Jaitun praktis tak bisa beraktivitas apa-apa lagi. Upaya maksimal sudah dilakukan Ramlah dan keluarga untuk mengobati Jaitun. Namun fisik bapak 5 anak ini tak sanggup dikembalikan seperti semula.

Tangan dan kakinya lumpuh tak bisa digerakkan lagi. Untuk bicarapun susah, suara Jaitun hanya terdengar terbata-bata. Kini, Ia pun menjadi tanggungan Ramlah untuk mengurus.

Dulu kata Ramlah, suaminya adalah pekerja keras. Walaupun tidak punya pekerjaan tetap, Jaitun tak pernah lelah mencari rejeki. Bahkan Jaitun pernah lama menjadi petani dan menggarap ladang di Kecamatan Tambora Kabupaten Bima.

Saat ini, anaknya yang pertama, Landa dan anak ketiga, Ida Royani mengikuti jejak hidup sang bapak bertani di Kecamatan Tambora. Mereka juga sudah berkeluarga. Hanya sesekali saja mereka pulang menjenguk, mengingat jarak Tambora yang cukup jauh.

Tak ada pilihan lain bagi Ramlah, ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ia berjualan nasi bungkus untuk membiayai hidup sekaligus pengobatan anak dan suami yang sakit.

“Saya berjualan di RSUD Bima setiap hari. Mulai sore dan pulang lagi malam hari kalau nasi sudah laku terjual,” ujar Ramlah saat ditemui Kahaba.net, Jum’at siang tadi.

Meski kesulitan ekonomi mendera dan suami diuji sakit, Ramlah tak ingin mengeluh. Baginya, selama Sang Pencipta masih memberikan kekuatan dan kesehatan ia akan tetap berusaha dengan berjualan nasi.

“Kalau bantuan dari pemerintah tidak kami pungkiri ada, untuk bedah rumah dan bangun WC. Tetangga juga tetap berbagi dengan kami,” ungkapnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *