Sepuluh Karyawan Minimarket Keracunan Nasi Bungkus

Kota Bima, Kahaba.- Suasana Pusat Kesehatan masyarakat (PKM) Asakota mendadak ramai pada Rabu (17/4/2013) malam akibat kedatangan para karyawan salah satu swalayan di Kota Bima. Delapan orang dirawat di PKM setempat, dua lainnya harus dilarikan ke RSUD Bima untuk mendapatkan perawatan medis akibat gejala keracunan.

ilustrasi

ilustrasi

Faujiah (21) yang ikut menjadi korban yang dirawat di salah satu ruang PKM Asakota, diceritakannya, mereka yang mengalami keracunan adalah para karyawan pernah menyantap nasi bungkus pada hari Minggu lalu. Faujiah sendiri mengaku tidak tahu kalau dirinya mengalami keracunan, sehingga melakukan pengobatan sendiri dengan meminum obat yang tersedia di pasaran. Namun hingga Rabu kemarin belasan rekan kerjanya mengaku mengalami hal yang serupa, bahkan beberapa diantaranya bertambah parah.

Lanjutnya, gejala keracunan tidak dirasakan serempak oleh teman-temannya. Ada yang jatuh sakit pada hari Senin, dan ada pula yang mengaku mulai merasakannya pada hari Selasa, atau dua hari setelah menyantap makanan itu. “Setelah melakukan perawatan sendiri dan tidak ada tanda-tanda membaik, kami semua dijemput di rumah masing-masing oleh bos tempat kami bekerja untuk dibawa ke sini (PKM),” tambahnya.

Hingga pukul 21.00 wita tercatat sepuluh orang korban keracunan yang dirawat di PKM Asakota. Para korban masing-masing bernama Muis, Firman, Jonas, Faujiah, Yuni, Nino, Ulfah, dan Fadilah.  Sementara di RSUD dilaporkan dua orang, yaitu Faisal dan Roni.

Berdasarkan keterangan salah seorang rekan korban, Rano Karno menduga santap siang berupa nasi bungkus berlauk ikan tengiri yang dibeli oleh salah seorang karyawan menjadi penyebabnya. Namun hal itu masih belum dapat dibuktikan karena harus melalui uji laboratorium terlebih dahulu. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *