Kabupaten Bima, Kahaba.- Komitmen RSUD Sondosia dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang tangguh dan kompeten, kembali dibuktikan melalui penyelenggaraan Workshop NICU–PICU (Neonatal Intensive Care Unit – Pediatric Intensive Care Unit) yang akan berlangsung tanggal 11–13 Februari 2026.
Workshop yang menyasar perawat, bidan, dan dokter umum ini merupakan kegiatan strategis hasil kerja sama RSUD Sondosia dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Kementerian Kesehatan RI dan telah mendapatkan 10 SKP Kemenkes.
Kegiatan ini dirancang khusus untuk memperkuat kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi paling kritis pada bayi dan anak, terutama pada layanan perawatan intensif neonatal dan pediatrik.
Sebagai lokasi kegiatan, aula utama RSUD Sondosia telah dipersiapkan secara optimal. Fasilitas pendukung seperti kenyamanan ruang, sistem audio-visual yang memadai, serta jaringan internet (WiFi) yang stabil disiapkan untuk menunjang proses pembelajaran selama workshop berlangsung.
Tak hanya berfokus pada teori, workshop ini dirancang sebagai pelatihan berbasis praktik nyata. Berbagai alat peraga klinis seperti CPAP, ventilator, manekin, dan phantom disiapkan agar peserta dapat langsung berlatih dan mensimulasikan penanganan kasus NICU–PICU secara komprehensif.
Direktur RSUD Sondosia, Firman, didampingi jajaran manajemen, saat melakukan pengecekan akhir persiapan menegaskan bahwa penguatan SDM merupakan kunci utama peningkatan mutu layanan rumah sakit, khususnya pada layanan intensif.
“Gedung dan peralatan NICU–PICU yang lengkap akan menjadi mubazir jika tidak diimbangi dengan SDM yang terampil. Dalam kondisi kegawatdaruratan, kepanikan sangat mungkin terjadi jika tenaga kesehatan tidak terbiasa berlatih secara langsung,” tegasnya.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pembaruan pengetahuan, tetapi juga mampu mengasah keterampilan praktis dalam penanganan pasien neonatal dan pediatrik kritis.
Peserta akan dilatih untuk mengambil keputusan cepat, bekerja dalam tim, serta melakukan tindakan penyelamatan secara tepat, sebagaimana situasi nyata di lapangan.
Firman juga menyoroti pengalaman nyata RSUD Sondosia dalam menangani kasus kegawatdaruratan bayi dan anak.
“Kita memiliki dokter spesialis anak yang sangat kompeten, dengan pengalaman di rumah sakit rujukan nasional seperti RS Harapan Kita. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, kami telah beberapa kali mengaktifkan Code Blue pada bayi atau neonatus, situasi yang sebelumnya mungkin hanya sering dibaca di buku atau disimulasikan saat akreditasi,” ungkapnya.
Code Blue merupakan kode darurat medis yang menandai kondisi henti napas dan/atau henti jantung, yang membutuhkan respons cepat, koordinasi tim yang solid, serta keterampilan teknis yang matang. Workshop ini menjadi momentum penting untuk memastikan setiap tenaga kesehatan tidak hanya tahu, tetapi juga mampu dan terampil bertindak.
Workshop NICU–PICU ini menjadi kesempatan berharga bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan kompetensi, kepercayaan diri, dan profesionalisme dalam pelayanan intensif bayi dan anak. Saat ini, slot peserta tersisa hanya 6 orang, menjadikan kegiatan ini semakin eksklusif dan bernilai tinggi.
RSUD Sondosia meyakini bahwa pelatihan yang realistis dan berbasis praktik merupakan fondasi utama keselamatan pasien. Kesempatan ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh tenaga kesehatan yang ingin benar-benar siap menghadapi situasi paling kritis.
*Kahaba-01














