Bibit Jagung Bermasalah, Firdaus Minta Bupati Bima Tidak Diam

Kabupaten Bima, Kahaba.- Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bima Firdaus meminta agar Bupati Bima Hj Indah Damayanti Putri tidak berdiam diri terkait masalah bibit jagung premium 919 yang saat ini menjadi masalah. Sebagai kepala daerah, Bupati Bima harus memberikan sikap dan tidak terkesan tidak mau tahu.

Anggota DPRD Kabupaten Bima Firdaus. Foto: Yadien

“Selama ini Bupati diam dan seolah tidak mau tahu. Urusan bibit bermasalah ini telah merugikan petani,” sorotnya, Selasa (12/11).

Duta PDIP itu menyampaikan, sikap Bupati Bima yang tidak merespon masalah bibit jagung, jelas menunjukan tidak berpihaknya pada kepentingan rakyat.

Selaku pemimpin daerah, Bupati harus bertanggungjawab penuh untuk segera menyelesaikan persoalan yang ada. Agar masalah bibit jagung tersebut tidak membias dan menjadi polemik yang tak berujung.

“Saya minta Bupati Bima segera sikapi masalah bibit jagung tersebut, jangan berdiam diri seolah tidak ada masalah yang terjadi,” desaknya.

Apalagi masalah bibit ini sudah diproses aparat penegak hukum, menandakan memang ada masalah yang terjadi. Bahkan dari pengadaan tersebut disinyalir ada kerugian negara yang tak sedikit. Sehingga berdampak pada kualitas pengadaan yang tak sesuai dengan keinginan para petani.

“Bupati ini tidak punya solusi terhadap masalah ini. Yang ada hanya pembiaran,” kritiknya.

Mantan aktivis ini menambahkan, pengadaan bibit jagung premium 919 menggunakan anggaran rakyat miliaran rupiah. Mestinya saat dikembalikan ke rakyat dalam bentuk bantuan seperti ini, harus benar – benar dirasakan manfaatnya. Bukan justru tidak berguna karena kualitas yang buruk.

“Bupati harus peka lah, masalah ini jika tidak diselesaikan, akan jadi bom waktu yang seketika meledak,” tegasnya.

*Kahaba-05

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *