5 Bulan Insentif tak Kunjung Dibayar, Honorer K2 Kota Bima Merana

Kota Bima, Kahaba.- Tenaga honorer K2 yang tersebar di kantor kecamatan dan kelurahan hingga saat merana. Bagaimana tidak, sejak Januari sampai Mei 2020 mereka tak kunjung terima insentif yang dijanjikan sebesar Rp 500 ribu perbulan.

Ilustrasi

Ketua Forum Tenaga Honorer K2 Kota Bima Jubaer mengungkapkan kenyataan pahit yang harus diterima rekannya di kantor kecamatan dan kelurahan. Mereka sampai saat ini masih terus menunggu upah yang dijanjikan pemerintah.

“Ada 300 orang lebih honorer K2 yang tersebar di kantor kecamatan dan kelurahan. Insentif mereka sejak Januari – Mei belum dibayar,” ungkapnya, Jumat (22/5).

Menurut Jubaer, pihaknya sudah pernah menyampaikan masalah ini ke Sekda Kota Bima dan diberitahu jika insentif untuk honorer sudah dialokasikan ke pemerintah kecamatan.

“Tapi anehnya lagi, pemerintah kecamatan juga bingung alokasi anggaran itu masuk ke pos mana. Sehingga sulit untuk dibayarkan,” terangnya.

Di tengah pandemi Covid-19 sambung Jubaer, tenaga honorer K2 juga merasakan dampak hidup yang semakin susah. Jika sebelumnya insentif itu dijanjikan sebesar Rp 1 juta perbulan, justru dikurangi menjadi Rp 500 Ribu.

“Kami ikhlas terima pengurangan dari yang dijanjikan sebesar Rp 1 juta sebulan, tapi masalahnya sekarang yang Rp 500 ribu itu juga belum dibayar,” tutur pria yang bekerja di Dinas Koperindag Kota Bima itu.

Terhadap masalah ini, mewakili teman – teman seperjuangannya Jubaer berharap pemerintah bisa memperhatikan honorer K2 yang tersebar di kecamatan dan kelurahan. Insentif selama 5 bulan itu bisa dibayarkan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

“Iya kita mau dapat uang dari mana lagi selain insentif itu. Jadi mohon pemerintah bayar keringat tenaga honorer K2,” harapnya.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *