oleh

ASBAD Gelar Forum Group Discussion untuk Toleransi

Kota Bima, Kahaba.- Asosiasi Antar Suku Bangsa untuk Toleransi dan Perdamaian (ASBAD) menggelar Forum Group Discussion (FGD) dengan tema, “Penguatan Kearifan Lokal dalam Rangka Pencegahan Konflik Sosial atau Penyebaran Faham Radikalisme dan Terorisme serta Penguatan Ekonomi Kreatif”, awal pekan ini.

ASBAD Gelar Forum Group Discussion untuk Toleransi - Kabar Harian Bima
Foto bersama peserta Forum Group Discussion untuk Toleransi yang digelar ASBAD. Foto: Ist

Kegiatan di Aula SMAN 1 Kota Bima melibatkan 4 orang pemateri masing-masing Ketua ASBAD M Ikbal, Dosen Pendidikan Ekonomi STKIP Bima Muhlis, Mahasiswa S-3 dan Pengamat Sosial Syukurman, Aktivis Sosial dan Keagamaan serta Penulis Buku Ustadz Sudirman Makka dan Istika Ahdiyanti sebagai moderator.



Ketua ASBAD M Ikbal mengataka, kegiatan yang diselenggarakan ini merupakan program Kementerian Sosial RI berdasarkan aspirasi Anggota Komisi VIII DPR RI Dapil NTB I H Zainul Arifin dan kegiatan diikuti ratusan orang peserta.

“Selain peserta dari kalangan dosen dan mahasiswa, juga dihadiri oleh pemuda dari beberapa kelurahan dan desa di Kota Bima dan Kabupaten Bima,” katanya melalui siaran pers, Kamis (23/12).

Dalam Pemaparannya, M Ikbal menegaskan bahwa cara untuk menangkal radikalisme yaitu melakukan penguatan karakter lewat pendidikan berbasis kearifan lokal Ngusu Waru seperti pertama “Dou Madei ro Paja Ilmu” artinya terpelajar dan berilmu, kedua “Dou Ma Dahu di Ndai Ruma” artinya bertaqwa pada Tuhan yang Maha Esa.

Baca:   JAT Nusa Tenggara Tuntut Pembubaran Densus 88
ASBAD Gelar Forum Group Discussion untuk Toleransi - Kabar Harian Bima
Para pemateri Forum Group Discussion untuk Toleransi yang digelar ASBAD. Foto: Ist

Kemudian ketiga “Dou ma Taho Ruku ra Rawi” artinya halus tutur kata dan perbuatan serta bersahabat, keempat “Dou ma Taho Ntanda ba Dou Londo Mai na” artinya menjaga nasab serta nama baik keluarga, kelima “Dou ma Dodo Tambari Kontu, Tengi Angi labo Dou ma To’i” artinya bahu membahu membantu rakyat kecil.

Keenam “Dou Mambeca Wombo na” artinya kaya serta berbagi, ketujuh “Dou ma Sabua Ngahi labo Rawi” artinya kejujuran dalam berkata dan berbuat, kedelapan “Dou ma Disa Kai ma Poda, Dahu Kai ma Dapoda” artinya membela yang benar dan takut membela yang salah.

“Pengamat Sosial Syukurman juga menjelaskan pencegahan radikalisme melalui character building menjadi muslim yang ramah dan baik, sehingga tidak ada rasa dendam dan rasis terhadap orang yang berbeda,” katanya.

Pada kesempatan yang sama sambung M Ikbal, Dosen Pendidikan Ekonomi STKIP Bima Muhlis mengungkapkan pentingnya menjadi pribadi yang kreatif dan cerdas. Menurut dia, masyarakat Indonesia pada stereotype orang luar memiliki sifat kurang disiplin, koruptif dan tidak mengikuti aturan.

Baca:   Warga Penatoi Dipulangkan, Prosesnya Bersifat Rahasia

“Oleh karena itu menurut Pak Mukhlis untuk menjadi pemuda yang baik, ada 4 hal yang harus diperhatikan, yaitu kreatif, karakter, kolaboratif dan konektif,” jelasnya.

ASBAD Gelar Forum Group Discussion untuk Toleransi - Kabar Harian Bima
Sesi tanya jawab saat Forum Group Discussion untuk Toleransi yang digelar ASBAD. Foto: Ist

Kemudian pemateri penutup, Ustadz Sudirman Makka mengidentifikasi adanya 2 faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik yaitu putus komunikasi, dan tidak memahami perbedaan sehingga tidak ada rasa saling menghargai.

Terkait dengan terorisme, menurut pemateri yang juga menulis buku tentang kesalahan dalam memaknai jihad tersebut mengatakan ada 2 munculnya terorisme dan dan radikalisme, pertama terorisme sesungguhnya tapi jarang ada di Indonesia, kedua terorisme bentukan. Tidak memiliki agama, dan sengaja dibentuk untuk memecah belah umat dan menebar kebencian.

Dalam sesi tanya jawab kata M Ikbal, peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemateri. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana upaya kaum muda dalam perspektif kearifan lokal untuk mencegahpenyebaran faham radikalisme dan terorisme dan konflik sosial yang terjadi.

Baca:   Qurais Apresiasi Toleransi dan Kerukunan di Bali

Terhadap pertanyaan tersebut, pemateri mengingatkan pentingnya kaum muda memegang teguh nilai moral Nggusu Waru. Terutama nilai kearifan lokal masyarakat Bima yaitu Maja Labo Dahu (Malu dan Takut).

“Itu adalah nilai agung yang bermakna luas sebagai landasan dalam menjalankan ajaran agama,” tuturnya.

Ia pun mengingatkan kata-kata orang tua dahulu, saat anaknya akan merantau, pesannya Maja Labo Dahupu Mori Dei Rasa Dou (Malu dan Takut Hidup di Rantauan). Suatu pesan moral untuk keselamatan diri, dan  kedamaian dengan sesama di manapun berada.

M Ikbal menambahkan, kegiatan FGD dimaksudkan untuk mengadopsi nilai–nilai kearifan lokal secara operasional sebagai landasan memperkenalkan dan menumbuhkan rasa cinta sehingga memperkuat toleransi, kerukunan, persatuan dan kesatuan antara umat beragama pada setiap peserta FGD.

“Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah konflik sosial dan penyebaran faham radikalisme dan terorisme di tengah kehidupan sosial dan tantangan zaman yang semakin kompleks,” pungkasnya.

*Kahaba-01

 


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kabar Terbaru