“The Eyes Darkness” dan Pengakuan Intel Militer China

Oleh: M.Dahlan Abubakar*

M Dahlan Abubakar. Foto: Ist

Beberapa waktu yang lalu saya menulis di media ini sekitar kaitan antara wabah Corona Virus Disease (Covid)-19 dengan buku yang ditulis   Dean Koontz berjudul “The Eyes of Darknes. Di dalam novel yang dirilis 1981 itu, sang penulis menyinggung adanya apa yang oleh Koontz disebut sebagai “barang” Wuhan-400 karena dikembangkan di laboratorium RDNA mereka di luar kota Wuhan dan merupakan keturunan ke-400 dari organisme yang dibuat di pusat penelitian itu.

Di tengah mewabahnya Covid-19 sebagai pandemi yang kian menggila ke seantero benua, pada tanggal 31 Maret 2020, law,justice.co merilis sebuah tulisan panjang yang berisi pengakuan seorang intel militer China yang tentu saja namanya sangat disamarkan. Seseorang telah berhasil menemukan tulisan tersebut dan segera memublikasikannya melalui laman www.intellihub.com pada pertengahan Februari 2020.

Di dalam tulisan setebal 11 halaman yang disunting Gisella Putri dari law,justice.co, dia menulis antara lain:

“Saya adalah warga negara Cina di Wuhan yang menduduki posisi tinggi dalam intelijen militer. Saya juga anggota Partai Komunis Tiongkok. Sebagai pejabat senior di dekat puncak Partai, saya memiliki akses ke banyak informasi rahasia dan saya telah terlibat dalam banyak proyek rahasia pemerintah. Saya memiliki gelar doktor dari universitas terkemuka di negara barat, itulah sebabnya saya dapat menulis akun saya dalam bahasa Inggris,” tulisnya.

Katanya lagi, saya memiliki informasi yang saya percaya dapat menyebabkan penggulingan pemerintahan saya. Ini juga relevan bagi miliaran orang di luar Tiongkok, yang semuanya sekarang dalam bahaya eksistensial.Tidak akan mengejutkan Anda mendengar bahwa jika identitas saya diungkapkan, hidup saya akan berada dalam bahaya besar, seperti halnya istri dan anak saya. Saya meminta Anda untuk menghormati fakta bahwa saya telah menghapus semua akun ini dari fakta yang membuatnya mudah untuk mengidentifikasi saya.

Sekarang Anda akan terbiasa dengan wabah 2019-nCoV baru-baru ini, juga dikenal sebagai NCP, atau hanya “coronavirus”. Anda pasti pernah mendengar bahwa itu berasal dari Wuhan, sebuah kota industri di China, dan itu berasal dari binatang-kemungkinan besar kelelawar atau trenggiling – yang dijual di pasar hewan liar.

Anda akan diberi tahu bahwa itu adalah penyakit seperti influenza yang pada kasus-kasus parah dapat menyebabkan pneumonia, kegagalan pernapasan dan kematian. Akhirnya, Anda mungkin pernah mendengar bahwa meskipun penyakit ini sangat menular, namun berbahaya hanya untuk orang tua atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Tingkat kematian resmi sekitar 2% atau lebih.

Semua itu adalah kumpulan kebohongan yang dibuat oleh negara China.

Tahun lalu, protes anti-pemerintah berskala besar meletus di Hong Kong. Komite Tetap Partai Komunis Tiongkok menganggap ini sebagai ancaman besar bagi integritas dan stabilitas ibu pertiwi. Pemerintah AS dan Uni Eropa sama-sama tahu bahwa Cina diam-diam bekerja membuat `agen` biologis yang akan membuat para pemrotes tunduk patuh.

Tanpa merinci, saya mengerjakan proyek itu. Kami mencoba mengembangkan semacam semprotan yang dapat disebarkan dari helikopter atau drone dan yang akan menyebabkan keterbelakangan mental dan perubahan perilaku.

Tentu saja, karena Hong Kong adalah salah satu kota paling terbuka dan internasional di dunia, Partai memutuskan bahwa terlalu berisiko untuk melepaskan `agen biologis` di Hong Kong tanpa terlebih dahulu mengujinya. Untuk ini, diperlukan sejumlah besar ujicoba manusia. Dua kelompok diidentifikasi untuk uji coba ini.

Pertama, kami mengumpulkan sejumlah besar yang disebut “radikal Islam” di Provinsi Xinjiang dan membawa mereka ke apa yang kami sebut “kamp pelatihan, dstnya”.

Dari catatan ini dari awal kita sudah mencurigai bahwa virus ini tidak lain adalah jenis senjata biologis yang diciptakan China guna menyerang secara global penduduk bumi yang terlanjur “bocor” sebelum dikerahkan secara resmi. Yang menimbulkan pertanyaan  dikatakan bahwa virus ini bersumber dari kelelawar dan trenggiling yang dikonsumsi oleh warga di negara itu. Sementara di Indonesia, kedua binatang itu menjadi komoditas bisnis di beberapa daerah tertentu tanpa pernah ada dampaknya bagi bagi yang mengonsumsinya. Hingga kini binatang itu tetap saja dijual di beberapa daerah, seperti di Sulawesi Utara.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa China melakukan itu, tidak lain untuk menguasai monopoli dan hegemoni ekonomi dunia yang memang mulai dia rebut dari Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Dengan cara inilah dia dapat menghidupi  penduduknya yang sudah menyentuh angka 2 miliar jiwa.

Bukti awal dari kegelisahan China kewalahan memberi makan terhadap warganya adalah dengan membuka sebanyak mungkin industri di negara lain dalam bentuk relokasi atau pembangunan baru. Di pabrik-pabrik atau unit industri tersebut tenaga kerja kasarnya sekalipun ikut “diekspor”. Di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, papan bicara yang semula hanya terdiri atas dua bahasa Indonesia dan Inggris, kini sudah “diganjilkan” dengan kehadiran tulisan kanji dalam bahasa Mandarin. Tentu ada maksudnya.

Di Sulawesi Selatan sendiri, kehadiran mereka sempat meresahkan warga lokal.  Misalnya di Jeneponto, tempat negara dengan ekonomi raksasa itu membangun unit pembangkit listrik bekerja saja dengan perusahaan dalam negeri, melahirkan protes warga lokal. Pasalnya, biar tenaga kerja kasar sekalipun diboyong dari China. Ini menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat lokal yang merasa mereka sulit memperoleh akses bekerja di proyek tersebut. Namun susah juga, tenaga kerja lokal kita hanya mengandalkan otot belaka, sementara keterampilan teknis dan bahasa sama sekali nol besar. Bagaimana mau berkomunikasi dengan tenaga kerja menengah China di proyek itu kalau tidak tahu bahasa Mandarin, bukan bahasa China yang biasa dipakai di Indonesia.

Jadi, problem jugalah. Itulah kekurangan kita tidak mempersiapkan sumber daya manusia yang bisa memperoleh akses ke dunia kerja dalam perusahaan transnasional yang menuntut penguasaan teknis dan bahasa. Ketika mengajar satu mata kuliah saya sempat bertanya kepada salah seorang dari empat orang mahasiswa asal Korea Selatan yang belajar bahasa Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Unhas.

“Apa alasan Anda belajar bahasa Indonesia?,”.

“Karena di Indonesia banyak perusahaan Korea. Kalau perusahaan Korea di negara kami memerlukan tenaga yang bisa ditempatkan di Indonesia, kami bisa melamar karena sudah punya modal dan bekal bisa berbicara dalam bahasa Indonesia,” jawab mereka.

Bagaimana dengan kesiapan anak-anak Indonesia? Boro-boro mempersiapkan diri seperti yang dilakukan anak-anak Korea itu, mereka lebih suka bekerja di sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan keterampilan khusus. Jadi, ini masalah besar buat kita ke depan.

*Penulis, Wartawan Senior, Akademisi, Penulis Buku, Putra Bima dan Tinggal di Makassar

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *