Kabar Kota Bima

Sorot Kelangkaan Gas LPG 3 kg, IMM Cabang Bima Duga Ada Penimbunan

1146
×

Sorot Kelangkaan Gas LPG 3 kg, IMM Cabang Bima Duga Ada Penimbunan

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Bima menyoroti masalah kelangkaan LPG ukuran 3 kg yang telah menjadi perhatian utama beberapa pekan terakhir. Pasalnya kondisi tersebut menimbulkan kesulitan yang berkepanjangan bagi masyarakat.

Sorot Kelangkaan Gas LPG 3 kg, IMM Cabang Bima Duga Ada Penimbunan - Kabar Harian Bima
Sekretaris Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik IMMawan Noval

Sekretaris Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik IMMawan Noval menyatakan, kelangkaan gas LPG ukuran 3 kg telah menghadirkan persoalan serius di tengah masyarakat yang sangat bergantung pada gas tersebut, sebagai sumber energi untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari.

Sorot Kelangkaan Gas LPG 3 kg, IMM Cabang Bima Duga Ada Penimbunan - Kabar Harian Bima

“Sebagai bagian dari pelayanan dasar kepada masyarakat, pemerintah seharusnya bertanggung jawab atas penyediaan dan distribusi gas LPG 3 kg,” tegasnya saat menghubungi media ini, Rabu 3 April 2024.

Menurut dia, disparitas harga yang sangat besar antara LPG 3 kg yang bersubsidi dan elpiji 12 kg yang tidak bersubsidi, telah membuat sebagian masyarakat yang seharusnya tidak menerima subsidi beralih menggunakan LPG 3 kg. Dampaknya, subsidi menjadi tidak tepat sasaran karena tidak hanya dinikmati oleh kelompok miskin, sehingga ini menjadi masalah kronis.

Noval mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan kelangkaan ini antara lain adalah peningkatan jumlah rumah tangga, pertumbuhan populasi, serta kesadaran yang meningkat akan kebersihan dan efisiensi energi.

Namun, pasokan yang tidak mencukupi untuk memenuhi lonjakan permintaan ini telah mengakibatkan kelangkaan yang signifikan dan kenaikan harga.

“Masyarakat yang terdampak kelangkaan ini merasa kesulitan mendapatkan pasokan gas LPG 3 kg yang memadai. Banyak rumah tangga mengalami kesulitan dalam memasak makanan sehari-hari, dan sebagian di antaranya terpaksa beralih ke bahan bakar alternatif seperti arang atau kayu bakar, yang dapat meningkatkan polusi udara dan berpotensi membahayakan kesehatan,” tambahnya.

Menyikapi masalah kelangkaan gas LPG, Noval menegaskan bahwa pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah konkret untuk memastikan pasokan yang memadai dan stabil.

Ini termasuk peningkatan produksi dalam negeri, investasi dalam infrastruktur distribusi, pengawasan yang ketat terhadap praktik ilegal, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam manajemen sumber daya energi.

“Sebagai akibat dari situasi ini, konsumsi LPG 3 kg meningkat drastis yang tidak hanya merugikan konsumen yang berhak, namun juga menyebabkan beban subsidi yang membengkak. Stok LPG 3 kg di pasar menjadi langka dan memicu panic buying di masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya regulasi yang mengatur pendistribusian LPG melalui PERDA,” pungkasnya.

*Kahaba-01