PB HMI Pertanyakan Kredibilitas Polisi

Kota Bima, Kahaba.- Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang diwakili Kepala Bidang (Kabid) Hukum dan Ham hadir di Bima, Rabu, (18/4). Keseriusan PB HMI atas kasus pengerusakan dan pembakaran inventaris sekretariat organisasinya, yang dilakukan oleh sejumlah preman, akan terus diperjuangkan. Kasus HMI adalah buntut reaksi dilemparnya mobil Wakil Walikota saat demo penolakan kenaikan BBM beberapa pekan yang lalu.

Hendra Ferdiansyah menuding telah terjadi konspirasi antara Kapolres Bima-Kota dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bima terhadap penuntasan kasus HMI. Pihaknya menilai kasus ini terkesan lamban dan tak sesuai dengan janji Kapolres Bima kota. Ia mendesak penyidik kepolisian untuk segera menyeret tersangka ke jeruji besi dan mengungkap otak pelaku di belakang tindakan premanisme terhadap HMI secara serius.

Hendra ferdiansyah, Ketua Bidang Hukum & HAM PB. HMI, ketika berkunjung ke Mapolres Bima Kota (18/4).

Di depan kantor Polres Bima-Kota, Rabu (18/4), Hendra yang didampingi  sejumlah pengurus teras HMI Cabang Bima, dihadapan Kahaba mengaku tidak diterima oleh Kapolres Bima-Kota, AKBP. Kumbul HS, S.Ik, ketika ingin meminta audensi untuk mengetahui perkembangan kasus itu.

“Kita pertayakan kredibilitas Kapolres Kota Bima, kenapa tidak berani menemui kami!” keluhnya.

Faktanya, sampai saat ini pihak kepolisian tidak pernah menangkap para pelaku, bahkan penetapan tersangka terhadap pengerusakan baru dua orang padahal terdapat delapan orang. Saat ini, polisi beralasan masih mendalami kasus tersebut, sudah tiga kali saksi-saksi dimintai keterangan.  Menurut Hendra, prilaku pihak kepolisian sama halnya terkesan tidak serius dalam memproses kasus HMI.

“Kalaupun memang tidak ada niat baik dari pihak kepolisian untuk menuntaskan kasus pembakaran inventaris HMI,  200 cabang HMI se-Indonesia akan turun ke jalan melakukan aksi besar-besaran untuk mengutuk tindakan biadap para preman dan otak intelektual serta jajaran kepolisian yang dinilai bermain mata dan terkesan lamban,” pungkasnya.

Lanjut Hendra, jajaran PB HMI mengutuk keras tindakan pengerusakan dan pembakaran yang dilakukan para preman dan dalang intelektual itu. HMI seluruh indonesia akan mendesak kapolda NTB dan Kapolri untuk tidak main-main dengan masalah pengrusakan dan pembakaran tersebut. “PB HMI telah melayangkan surat kepada Kapolri untuk serius tidak saja menangkap para pelaku tetapi otak dibelakang aksi pengrusakan tersebut,” tegasnya.

Ditanya mengenai fitnah yang dilontarkan Walikota beberapa waktu lalu, terkait pembakaran Al-qur’an dan Bendera, Hendra menguraikan bahwa organisasi HMI bernafaskan Islam, sehingga disetiap kegiatan organisasi maupun di sekretaiatnya selalu terdapat Al-qur’an. Dengan demikian, saat aksi perusakan dan pembakaran tersebut, dia mengakui sebayak 15 eksemplar Al-qur’an yang terbakar dan satu lembar bendera merah putih.

“Kami harapkan polisi mengusutnya karena sudah ada keterangan saksi dan video rekaman saat itu, dan Walikota Bima diharapkan tidak gegabah dalam bersikap dan menebar fitnah terhadap HMI sebelum tuntutan dan laporan HMI ada putusan hukumnya. Kami menantang Walikota Bima, H. Qurais H. Abidin untuk sumpah mengusung Al-qur’an agar bisa  membuktikan siapa yang sebenarnya yang menyebarkan fitnah,” tantangnya. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *