Ponpes KBW Siap Berbenah Diri

Kota Bima, Kahaba.- Kendati keberadaan sekolah kian terpuruk dengan berkurangnya peserta didik yang mengikuti kegiatan belajar mengajar, justru hal ini memacu Pondok Pesantren (Ponpes) Kholid Bin Walid (KBW) untuk berbenah diri.

Ponpes Khalid Bin Walid. Foto: SYARIF

Ponpes Khalid Bin Walid. Foto: SYARIF

“Kami akan  memperbaiki manajemen sekolah, karena baru tahun 2012 lalu peralihan kepemimpinan terjadi di Ponpes Khalid Bin Walid,” kata pimpinan Ponpes, H. Azrun Sulaiman pada Kahaba, Sabtu 23 November 2013.

Azrun mengaku, sekolah yang memiliki jumlah siswa minim biasanya berdampak kepada guru yang ada. Jika terjadi di sekolah negeri mungkin bisa diatasi dengan penggabungan dengan sekolah negeri lainnya dan PTK masih tetap bisa mengajar. Namun untuk sekolah swasta, seperti di Ponpes KBW, kekurangan siswa yang terjadi, dipastikan  tidak berpengaruh pada guru.

“Honor guru selalu diberikan, kendati siswanya minim. Itu semua saya lakukan demi menyelamatkan mereka agar tetap bertahan di Ponpes, sehingga sisa siswa yang ada tidak terlantar,” ujarnya.

Lanjutnya, ia tetap berusaha untuk mencari siswa. Baik di wilayah Kabupaten Bima maupun ke daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sekolah swasta memang besar tantangannya. Dan demi sebuah pengabdian, kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupkan ponpes di bawah organisasi Persatuan Islam (Persis) ini,” tuturnya.

Menurutnya, siswa adalah nyawa sekolah. Walau dengan kondisi persaingan yang cukup ketat, tahun depan, jumlah siswa di Ponpes KBW pasti akan bertambah. Sekolah swasta yang berbasis agama di era modern seperti saat ini, harus mampu menyesuaikan manajemen yang berdaya saing, sehingga orangtua siswa pun tak ragu untuk menyekolahkan anaknya di swasta.

“Di perkirakan tahun depan, Ponpes KBW mampu menunjukkan pencitraan yang baik serta meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan yang lebih baik. Insya Allah, kami akan berusaha semaksimal mungkin dalam rangka untuk mencapai target pelayanan pendidikan yang layak,” ujar Azrun optimis.

Tekad Azrun, kendati sekolah swasta harus mempunyai nilai jual kepada masyarakat, serta memiliki program pencarian siswa baru yang didukung oleh strategi pemasaran layaknya sebuah produk. Saat ini, Lanjutnya, persaingan mendapatkan siswa baru di antara sekolah-sekolah cukup ketat.

“Berbagai strategi dan cara dilakukan kerap dilakukan untuk mendapatkan siswa seperti melakukan promosi. Hanya saja, ada sebagian guru yang tidak puas sehingga berhasil memprovokasi siswa keluar dari KBW,” tandasnya.

Sebenarnya sekolah sudah mulai maju di tahun 2012 lalu jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Harusnya perkembangan itu didukung, tapi sebagian guru banyak yang tidak puas. Sehingga memprovokasi siswa dan akhirnya pindah sekolah.

Di sisi lain, dia juga berharap, pemerintah sekiranya dapat membuat kebijakan. Terutama  keputusan untuk membatasi jumlah penerimaan siswa Negeri dan memberi bantuan yang cukup bagi sekolah swasta layaknya sekolah negeri.

“Terpuruknya sekolah swasta itu karena tidak ada batas perekrutan siswa baru di sekolah negeri. Buktinya, tiap tahun sekolah negeri siswanya menjamur, sementara sekolah swasta hanya muntahan saja,” pungkas Azrun.

*SYARIF

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *