Perumnas Sambinae Bakal Dibongkar

Kota Bima, Kahaba.- Setelah sekian lama PT. Perumnas tak memberikan kepastian terhadap sejumlah pengusaha toko material, dalam waktu dekat para pengusaha itu berencana mengambil tindakan tegas. Perumahan yang dibangun di Kelurahan Sambinae itu rencananya akan dibongkar paksa, hingga rata dengan tanah.

Aksi penyegelan di Perumnas Kelurahan Sambinae awal November lalu. Foto: DEDY

Aksi penyegelan di Perumnas Kelurahan Sambinae awal November lalu. Foto: DEDY

Sebelumnya, pihak yang merasa dirugikan itu menyegel Kantor PT. Perum Perumnas Bima Kelurahan Sadia dan perumahan awal November 2013 lalu. Seluruh pengusaha toko material memberikan ultimatum kepada manajemen PT. Perum Perumnas, bila tidak menyelesaikan tunggakan utangnya sampai akhir bulan November, pengusahan mengancam akan membongkar bangunan perumahan yang kini terlantar tersebut.

Murdianto, Pemilik UD Nabila yang juga perwakilan pengusaha itu  mengaku sudah kesal dengan ulah PT. Perum Perumnas Bima. Padahal kantor dan  perumahan sudah disegel, namun sampai saat ini tidak ada pembayaran tunggakan utang. Bahkan mereka sudah menyampaikan keluhan sampai ke kantor PT. Perum Perumnas Cabang NTB di Mataram.

Katanya, pihak PT. Perum Perumnas Cabang NTB pun seolah cuci tangan. Mengaku jika persoalan utang material barang pada sejumlah pengusaha di Kota Bima masih diproses di Jakarta. Mereka pun tidak dapat memberikan kepastian kapan uang tersebut dapat direalisasikan. ”Massa kita di pimpong kiri kanan, kami menagih hak, uang kami diutang.  Jika tidak mau dibayar, kami ratakan saja bangunan perumahan di Sambinae itu,” ancamnya.

Dia beralasan, bukan sedikit utang PT. Perum Perumnas itu. Satu pengusaha saja, ada yang sampai Rp 200 juta. Kalau dihitung berapa jumlah pengusaha rugi, jumlahnya bisa miliaran. Belum lagi informasinya, pembayaran lahan lokasi pembangunan perumahan ternyata juga baru sebagian kecil dibayarkan oleh manajemen PT. Perum Perumnas. ”Tidak ada niat mau bayar, tetapi kita sudah beri ultimatum pada pimpinan di Mataram,” tegasnya.

Murdianto kembali mengancam, jika tidak direalisasikan sampai awal Desember nanti, maka pihaknya bersama dengan pengusaha lain akan merobohkan sebagian bangunan itu. “Rumah itu dibangun dengan uang kita,” ujarnya.

Akibat diutang perusahaan tersebut, ia mengaku para pengusaha material kini sudah sangat kesulitan modal. Ditambah lagi uang pembayaran cicilan Bank dan bunga, kemudian juga gaji bagi karyawan. Waktu tujuh bulan menunggak pembayaran oleh pihak perusahaan sudah sangat keterlaluan. ”Kita ini pengusaha kecil pak, kalau tidak dibayar, berarti PT. Perum Perumnas ini sengaja datang hancurkan Kota Bima,”  tudingnya.

Buktinya tidak saja pengusaha yang jadi korban, 433 pelanggan yang merupakan masyarakat Bima kini terkatung-katung. Sudah setor uang muka dan cicilan, sementara rumahnya belum tuntas dikerjakan oleh pihak pengemban.

Sementara itu, saat wartawan mendatangi kantor PT. Perum Perumnas di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Sadia, tidak satupun karyawan yang terlihat. Bahkan kantor tersebut masih dalam keadaan tersegel oleh para pengusaha material sebelumnya.

Informasinya karyawan dan pimpinan PT. Perum Perumnas Bima telah kabur ke Mataram, lantaran tidak berani menghadapi protes pelanggan dan pengusaha yang uangnya diutang. *DEDY

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *