Kawasan Hutan Tambora Terancam Rusak

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kawasan hutan tutupan dan konservasi di wilayah Kecamatan Tambora mulai dari Kawinda To’i arah utara hingga ujung selatan Doro Peti kini terancam rusak. Pasalnya, ekploitasi kayu gelondongan dilakukan secara besar-besaran hampir setiap hari.

Kayu hasil eksploitasi di Hutan Tambora. Foto: Ady

Kayu hasil eksploitasi di Hutan Tambora. Foto: Ady

Selain dilakukan perusahaan, ekspolitasi tak berijin alias ilegal logging juga dilakukan sejumlah oknum warga. Indikasi itu diungkapkan Ketua Masyarakat Pencinta Alam Tambora (MAPATA), Sugeng Purnomo kepada Kahaba.net, Jum’at (30/10) pagi.

Sugeng membeberkan, hasil observasi MAPATA bersama rekan-rekannya pemerhati kelestarian alam dan hutan setempat menemukan fakta mencengangkan. Sejumlah kayu-kayu besar yang menjadi pelindung hutan dan sumber mata air telah dibabat dan dieksploitasi.

Dibeberapa titik ungkap dia, ekspolitasi kayu hutan tutupan itu dilakukan perusahaan. Mereka beralasan telah mendapatkan ijin dari pemerintah sehingga leluasa membabat hutan. Hanya saja, pihaknya merasa heran pemerintah semudah itu memberikan ijin untuk pengelolaan kayu hutan.

“Kawasan Hutan Tambora sekarang terancam rusak parah. Eksploitasi kayu oleh sejumlah oknum warga juga terjadi. Mereka menjual kayu-kayu itu ke luar daerah dan mendapatkan untung,” bebernya.

Dampak kerusakan hutan kata Sugeng, telah dirasakan masyarakat sekitar Hutan Tambora beberapa tahun terakhir. Seperti di Desa Labuan Kananga, pernah dihantam banjir besar yang menggenangi pemukiman masyarakat hampir 70 persen. Beberapa sungai sekitar kawasan hutan juga mengering di musim kemarau.

“Seperti Sungai Sori Sumba dan Sungai Pancasila kini sudah mengering. Padahal, walaupun musim kemarau sungai ini tidak pernah kering seperti saat ini. Kalau musim hujan, justru banjir besar yang datang,” akunya.

Salah satu sungai di Tambora kering, akibat eksploitasi hutan. Foto: Ady

Salah satu sungai di Tambora kering, akibat eksploitasi hutan. Foto: Ady

Tak hanya itu lanjutnya, penebangan pepohonan di sekitar Sori Sumba telah menyalahi aturan karena masuk area Situs Tambora. Bila kondisi tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin semua kayu penahan air dan pelindung hutan habis beberapa tahun ke depan. Selain itu, area Situs Tambora juga akan ikut terancam rusak.

“Saya bahkan telah mengirim tulisan ke National Geography beberapa bulan lalu, dengan harapan ada perhatian nasional terhadap kerusakan Hutan Tambora. Kami hidup disini dan punya tanggungjawab menjaga hutan kami,” tegasnya.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Bima belum berhasil dikonfirmasi wartawan, Jum’at (30/10). Dihubungi melalui telepon seluler tidak direspon, begitu pun ketika dikirim pesan singkat juga tak ada jawaban.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *