Miris, Masjid Nurul Yaqin di Tambora Seperti Gubuk

Kabupaten Bima, Kahaba.- Disaat berbagai desa dan kecamatan di Kabupaten Bima berlomba-lomba membangun masjid megah, ternyata masih ada masjid yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan, sangat jauh dari kata nyaman untuk digunakan sebagai tempat ibadah.

Masjid Masjid Nurul Yaqin Tambora. Foto: Ady

Masjid Masjid Nurul Yaqin Tambora. Foto: Ady

Masjid itu bernama Masjid Nurul Yaqin. Letaknya berada di Dusun Sori Bura Desa Oi Bura Kecamatan Tambora. Dari ukurannya, bangunan tua ini memang lebih tepat disebut mushalla. Karena ukurannya kecil dan luasnya terbatas untuk menampung banyak jamaah.

Namun, karena pertimbangan jarak antar kampung mencapai kiloan meter dan kondisi jalan rusak parah menuju kampung lainnya, masyarakat pun tidak punya pilihan lain.

“Masjid ini sudah ada sejak kampung kita ada. Orangtua kita dulu sudah menggunakannya untuk Sholat Jum’at,” tutur Ayatullah, Tokoh Masyarakat setempat.

Selain bangunannya tua, kondisi Masjid Nurul Yaqin sangat memprihatinkan. Dindingnya mulai rapuh dan kumuh. Terlihat jelas banyak jamur yang menempel pada bagian bawah dinding karena masjid hanya dicat putih polos.

Kondisi bagian dalam Masjid Masjid Nurul Yaqin Tambora. Foto: Ady

Kondisi bagian dalam Masjid Masjid Nurul Yaqin Tambora. Foto: Ady

Pintu dan jendela masjid hanya dibuat seadanya dengan susunan papan tak rapi. Hanya untuk mencegah agar binatang ternak tidak leluasa masuk mengotori masjid. Memasuki bagian dalamnya semakin memprihatinkan. Lantai masjid hanya beralaskan campuran semen kasar yang sudah banyak terkelupas.

Sebagian lantai hampir bercampur dengan tanah. Untungnya, ada karpet dan permadani usang yang menutupinya sehingga hanya sebagian lantai yang terlihat. Bagian mihrab dan mimbar masjid pun tak kalah miris. Ukurannya sangat kecil dan dibuat sederhana. Hampir pas dengan ukuran dan ketinggian imam maupun khatib.

Mendongak ke atas, kita disuguhkan pemandangan beberapa kayu terbentang sebagai peyangga seng agar tidak ambruk. Sama sekali tidak ada plafon. Sehingga ketika hujan turun dipastikan percikannya akan langsung mengenai para jama’ah.

“Masjid ini baru sekali pernah dibenahi sedikit karena ada bantuan semen dan besi saat Almarhum Dae Ferry berkunjung periode pertama beliau jadi Bupati,” kata Ayatullah.

Sejak saat itu, kampung yang dihuni sekitar 150 Kepala Keluarga ini sama sekali tidak pernah lagi menerima bantuan apapun dari pemerintah meski sudah diajukan permohonan beberapa kali.

Karena tak ingin berharap banyak pada Pemerintah Kabupaten Bima, masyarakat bersama Pemerintah Desa merencanakan pembenahan Masjid Nurul Yaqin menggunakan dana desa. Hanya saja, realisasinya dimulai pada Tahun 2017 mengingat banyak program prioritas lainnya tahun ini.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *