Kriteria Calon Ketua KNPI, Lihat dari Rekam Jejaknya

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pergantian kepemimpinan DPD II KNPI Kabupaten Bima yang rencananya akan digelar April 2017 mendatang mendapat atensi dari Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Bima, Asrul Raman.

Asrul Raman

Menurutnya, penyaringan bakal calon Ketua KNPI harus memenuhi prinsip-prinsip berorganisasi yang baik. OKP maupun PK memikili posisi penting dalam menentukan siapa yang akan memimpin KNPI. Sehingga perlu memberikan rekomendasi pada kandidat yang tepat.

“Maksudnya kandidat yang tidak memiliki rekam jejak pragmatis dan harus yang mau bersuara lantang untuk perbaikan pemuda ke depannya,” kata Mantan Ketua PC PMII Bima ini, kemarin.

Mengapa dua hal itu perlu kata Asrul, karena problem pemuda di Bima saat ini begitu kompleks. Mulai dari kasus narkoba, pemakai dan pengedar tramadol, konflik, minuman keras, hingga persoalan pemikiran ekstrem dalam beragama.

Tantangan itu lanjutnya, tidak boleh dianggap remeh. Kandidat harus bisa belajar dari keadaan tersebut. Ketua organisasi pemuda itu harus hidup, berkembang dan tumbuh bersama organisasinya. Dia harus bangkit, jatuh dan bangun membesarkannya. Apalagi KNPI memiliki PK yang banyak dan terdapat OKP yang berhimpun di dalamnya.

“Itu semua harus diurus dengan pengalaman berorganisasi yang baik dan profesional. Terlebih tahun depan KNPI berusia 90 tahun dan itu harus di hadiahkan ketua yang mumpuni,” tuturnya.

Kandidat Magister Universitas Indonesia ini menambahkan, kepemimpinan KNPI selama dua periode lalu harus jadi pelajaran bagaimana buruknya mengelola organisasi.

Semangat kepemudaan yang kendur dan cenderung lembek dalam menyikapi persoalan kepemudaan. Bahkan, dinilainya progres KNPI tidak lebih baik dari OKP-OKP seperti PMII, HMI, IMM dan banon-banom ormas seperti NU dan Muhammadiyah.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *