Aksi Petani Ditengah Merosotnya Harga Bawang

Kabupaten Bima, Kahaba.- Nasib para petani di Kabupaten Bima, kini semakin sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut dialami oleh petani Bawang, setelah memasuki massa panen harga komoditi bawang merosot sampai harga Rp 2000/kg, dan harga tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani.

Massa petani bawang merah menyampaikan aspirasinya di kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Bima, Senin (24/9).

Menindaklanjuti hal tersebut, puluhan petani asal Kecamatan Sape dan Lambu, Senin (24/9) menggelar demonstrasi di kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, dan juga di Kantor Bupati Bima. Demonstran menuntut agar pemerintah memperhatikan nasib mereka dan terlibat langsung secara aktif untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Massa yang tergabung dalam Gerakan Solideritas Petani (GSP) Bima, menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Bima. Bahkan, saat aksi berlangsung, hampir terjadi kericuhan antara pendemo dengan aparat kepolisian yang mengamankan aksi tersebut. Hal tersebut disebabkan karena para demonstran memaksa untuk memblokir akses Jalan Soekarno-Hatta.

Jasmin, yang bertindak sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) aksi tersebut dalam orasinya menyatakan bahwa anjloknya harga komoditi bawang terjadi hampir setiap tahun disaat musim panen tiba. Sementara, saat pembelian bibit dan sebelum waktu panen, harga bawang begitu mahal. “Sedangkan saat panen tiba, harga bawang langsung merosot. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada penghasilan petani, bahkan nyaris tidak ada keuntungan yang diperoleh,” ujarnya.

Hasil panen untuk setiap 100 Kg bawang merah, hanya dihargai sebesar Rp 200 ribu. “Kami meminta kepada Dinas Pertanian dan juga Bupati Bima untuk segera menanggapi tuntutan warga dan menolong para petani Bawang agar harga dapat kembali normal,” katanya.

Selain mahalnya harga bibit bawang, masalah biaya perawatan saat proses menanam sampai panen sangat mahal. Harga pupuk pun ikut naik, padahal bawang merah merupakan komoditi andalan mayoritas petani Sape dan Lambu. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *