4 Siswa ini Protes Dipukul Guru

Kota Bima, Kahaba.- Bermula karena tidak pernah mendapatkan beasiswa, kemudian ngamuk membanting meja, 4 siswa SMPN 14 Kota Bima ini dipukul kepala sekolah dan sejumlah guru setempat. Karena aksi pemukulan itu terlalu dan berbekas, para siswa itu pun memprotes.

4 Siswa SMPN 14 Kota Bima saat menyampaikan protes karena dipukul guru. Foto: Eric

“Kami gamuk dan angkat meja karena tidak terima keputusan sekolah yang tidak pernah memberikan kami beasiswa miskin,” ujar salah satu siswa Fikra, didampingi 3 rekan lainnya, kemarin (18/8).

Fikra menceritakan, setelah ia bersama temannya mengangkat meja. Mereka kemudian dipanggil dan dipukul kepala sekolah dan sejumlah orang guru. Mulai dari kepala sampai kaki.

“Kami tidak terima dipukul begini, karena terlalu keras dan menyebabkan luka. Seharusnya hanya sekedar membina, bukan memukul sangat keras,” protesnya.

Ibu Fikra yang turut mendampingi Rita Nurlaila menyorot, pemukulan itu berlebihan. Bahkan ada salah satu siswa hingga perutnya tergores karena dipukul dengan sapu. Karena ia juga memerotes, dirinya pun mendatangi kepala sekolah.

“Saat saya menghadap, saya diberitahu hanya diberikan pembinaan karena nakal. Tapi anak-anak juga ada yang dipukul hingga tergores dibagian perut,”

Sementara itu siswa lain Dayat yang turut didampingi teman sekelasnya Rangga dan Yusran juga mengalami hal yang sama. Kejadian pemukulan itu dialami saat hendak membeli air minum ketika jam pelajaran masih berjalan.

“Saat meminta izin membeli air minum, tiba-tiba oknum guru melarang saya. Kemudian memukul hingga pinggang terluka,” ujar Dayat sembari memperlihatkan luka.

Akibat tindak kekerasan tersebut, dirinya bersama teman dan orang tua siswa lainnya akan melaporkan kepada Dinas Dikbud untuk ditindaklanjuti. Agar dapat disikapi dengan cepat, agar tidak terjadi tindak kekerasan lainnya.

Sementara itu Kepala SMPN 14 Kota Bima Arsyad yang dimintai tanggapan membantah keterangan siswa tersebut. Apalagi memukul hingga menyebabkan luka.

“Kami hanya memberikan pembinaan, bukan memukul hingga menyebabkan siswa teluka,” tepisnya.

Dijelaskan Arsyad, bukan wewenang sekolah menentukan beasiswa siswa. Karena sekolah hanya menyerahkan data dan nama siswa, selanjutnya menjadi keputusan pusat. Siswa mana saja, yang memperoleh Kartu Indonesia Pintar (KIP) tersebut.

“Kalau ingin protes, jangan ngamuk dan angkat meja. Inikan sudah perbuatan melanggar etika, apalagi ini dilakukan oleh siswa saat KBM. Jadi wajar juga guru memberikan pembinaan, tapi tidak ada maksud melukai,” tegasnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *