Kegaduhan Pendukung di Medsos Bisa Merugikan Paslon

Kota Bima, Kahaba.- Media Sosial (Medsos) Facebook akhir-akhir ini diramaikan kegaduhan para pendukung Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Bima. Saling hujat, menjatuhkan dan sindir cukup menimbulkan ketegangan antar pendukung.

Akademisi STISIP Mbojo Bima Doktor Syarif Ahmad. Foto: Ady

Menurut Akademisi STISIP Mbojo Bima Doktor Syarif Ahmad, kegaduhan antar pendukung di medsos sebenarnya dapat merugikan paslon dan menciderai proses demokrasi.

“Saya berpikir kalau seperti itu justru merugikan tidak saja pada proses demokrasinya, tetapi juga merugikan paslon,” kata Doktor bidang Sosial Politik jebolan Universitas Indonesia ini, kemarin.

Ia menyebut, kegaduhan pendukung Paslon Walikota dan Wakil Walikota Bima di medsos sebagai implikasi proses demokratisasi itu sendiri. Sebab medsos adalah bagian dari produk demokrasi. Kalau disalahgunakan akan menjadi mobokrasi atau kekacauan.

“Sebagaimana kita lihat kekacauan itu dimulai dari saling hujat menghujat, caci memaki. Sebenarnya itu kontraproduktif dengan isu-isu dan perkembangan demokrasi,” ujar Syarif.

Menurut dia, nyaris kekacauan di medsos itu dilakukan fansboy politik yang selalu berpikir dirinya saja yang benar sedangkan orang lain salah. Padahal proses demokrasi itu bicara tentang kemampuan menyampaikan argumentasi dan juga kemampuan mendengar suara orang lain.

“Disitulah ruang untuk saling menghargai. Kalau kita berpikir ingin mewujudkan pembangunan demokrasi yang sehat,” tutur pria asal Wera ini.

Ia pun berharap para tim dan pendukung mampu menahan diri serta memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana berpolitik yang sehat. Mereka harus mengajak dan meyakinkan masyarakat dengan cara yang sehat.

Misalnya bagaimana program-program yang akan diperjuangkan nantinya, itu yang lebih utama diyakinkan kepada pemilih. Bukan malah saling menyalahkan dan menghujat satu sama lain.

“Paslon sebenarnya tidak menghendaki hal seperti itu (kegaduhan), tapi yang namanya pendukung itu bikin ramai. Ya itulah namanya demokrasi,” tandasnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *