Pasar Raya Bima, Jorok Tapi Dibutuhkan

Kota Bima,  Kahaba.- Impian Pemerintah Kota Bima untuk mendapatkan tropi Adipura sepertinya masih jauh dari kenyataan. Faktanya, bila kita tengok kondisi pasar Raya Bima kesan bersih akan hilang ditelan dengan kotor, becek serta berbau nya hampir seluruh bagian pasar, khususnya pada los pasar ikan sisi selatan pusat ekonomi warga Bima itu.

Harga daging di pasar Rasa Kota Bima melonjak di bulan Ramadhan / Foto: Kahaba.info

Pasar Raya bima. Foto: Kahaba.info

Hasil pengamatan Kahaba di pasar yang menjadi tempat jual beli berbagai bahan konsumsi pokok masyarakat itu pada hari Rabu (9/1/2013) dipenuhi dengan sampah yang berserakan. Bekas potongan daun, plastik, serta air bekas penyimpanan ikan, dan aneka sampah lainnya mengisi tiap sudut pasar. Bahkan terlihat pula saluran air yang beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah bercampur limbah bekas para pedagang, akibatnya bau tidak sedap menjadi konsumsi keseharian para pengunjung.

Kondisi pasar yang kotor dan jorok bukan sekali ini saja terlihat, sejak digunakan pasar tradisional tersebut tidak pernah berubah menjadi lebih baik. Kondisi ini selalu menjadi lebih parah ketika musim penghujan datang. Pengunjung harus merelakan diri berbelanja barang, khususnya bahan makanan di tengah pasar yang becek, berbau kurang sedap dan penuh sampah itu.

Seperti disampaikan sejumlah pengunjung pasar kepada Kahaba, Jahariah (34)  mengaku sangat tidak nyaman bila berbelanja di pasar Raya Bima. Namun dirinya tidak memiliki pilihan lain untuk berbelanja kebutuhan keluarga setiap harinya. “Bagaimana lagi hanya ada satu pasar yang ada, walaupun begitu kotor dan jorok, karena keseringan akhirnya harus terbiasa,” ujarnya.

Menurut Jahariah, pemerintah sebagai pengelola harusnya jangan hanya bisa menagih retribusi tanpa memperhatikan kebersihan dan kenyamanan aktivitas ekonomi masyarakat di tempat itu. Apalagi menurutnya pasar Raya berlokasinya di jantung Kota Bima, tentunya akan menjadi penilaian buruk orang luar.

Begitu pun yang disampaikan Adi (29). Warga Penagara itu meminta pemerintah untuk tidak tinggal diam. “Jangan hanya sesumbar telah membangun gedung-gedung besar, jalanan beraspal, dan taman-taman yang banyak, kalau pasar saja tidak terurus ,” pungkas Adi. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *